BAGAIKAN ROTI YANG TERPECAH
(Bdk. Lukas 24:30)
Tulus berbagi
Suatu peristiwa yang sulit saya lupakan terjadi pada waktu Kumpul Bocah beberapa tahun yang lalu. Setelah usai Kumpul Bocah saya antar sekelompok anak pulang ke rumah. Seorang di antaranya duduk di samping saya, sementara saya nyopir. Kecuali membawa bingkisan yang disampaikan oleh penyelenggara Kumpul Bocah yaitu Pelayanan Sosial Garam, anak di samping saya tersebut masih membawa pula sebungkus bagian nasi makan siang. “Dik, nasi untuk makan siang kok tidak dihabiskan?” tanya saya kepadanya. “Ya, tidak saya habiskan. Untuk adik yang di rumah.” Jawabannya membuat saya terhenyak. Saya kagum terhadap jawaban anak kecil itu! Jawabannya mengungkapkan hati yang tulus berbagi.
Sharing berikut saya dengar pada waktu pertemuan Kerabat Kerja Ibu Teresa (KKIT) yang berkumpul pada suatu pertemuan bulanan Minggu II. Ada juga acara Kumpul Bocah yang diselenggarakan di rumah seorang anggota. Acaranya memasak agar anak-anak dapat belajar untuk semakin mampu bekerjasama. Sementara itu ada seorang Bapak pemulung lewat di depan rumah. Bapak tersebut diundang, dan ditawari apakah mau diberi nasi masakan anak-anak. Sepiring nasi diberikan kepada Bapak tersebut. Namun, apa yang kemudian dibuatnya? Nasi itu kemudian dibungkusnya dengan kertas koran. “Lho, kenapa tidak dimakan, Pak?” “Saya pengin makan nasi ini bersama isteri saya di rumah!” jawabnya. Peristiwa inipun sangat mengesankan, karena hatinya tulus berbagi.
Mungkin anda juga memiliki kisah-kisah serupa! Peristiwa-peristiwa sederhana tersebut mengesankan karena melalui peristiwa-peristiwa tersebut terungkap isi hati yang tulus berbagi.
Ia memecah-mecahkannya...
Ketika itu, dua murid pulang ke Emaus. Sesampai di rumah mereka mohon kepada teman seperjalanan mereka agar berkenan tinggal bersama-sama dengan mereka sebab hari telah menjelang malam. Lukas mencatat peristiwa yang terjadi selanjutnya, “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, ....” (Luk 24:30-31)
Dengan memecah-mecahkan roti Yesus hendak menerangkan kepada kedua murid makna derita dan kematian-Nya. Bagaikan roti yang terpecah, Ia hendak mengatakan, “Makanlah Aku, dan kamu akan selamat!” Bagaikan roti yang terpecah, Ia hendak mengatakan, “Tak apa Aku sakit dan menderita, asal kamu bahagia!” Bagaikan roti yang terpecah, Ia mengatakan, “Aku telah mencintaimu sehabis-habisnya sampai mati!”
Ketika itu terbukalah mata mereka, dan mereka pun mengenal Dia. Dia benar-benar tulus berbagi karena cintakasih-Nya. Ketulusan hati-Nya untuk berbagi telah dikenal oleh para murid selama mengikuti-Nya. Telah dibuktikan dengan sempurna dalam kematian-Nya di salib. Dan kemudian diabadikan karena Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati..
Agape, cintakasih yang menyempurnakan
Bagaikan roti yang terpecah, Yesus mencintai dan mengasihi manusia sehabis-habisnya, agar manusia selamat dan bahagia. Cintakasih sedemikian itu disebut dalam bahasa Yunani “agape”.
Dalam Ensiklik “Allah adalah kasih” Bapa Suci Benedictus XVI menyatakan bahwa kasih Allah (agape) telah menyempurnakan cinta (eros). Meskipun berbeda keduanya tidak dapat dipisahkan.. Eros tanpa agape akan dimiskinkan sekedar menjadi asmara yang berorientasi pada diri sendiri, sedangkan agape tanpa eros akan dimiskinkan sekedar cinta sepihak. Allah mencintai, dan cintakasih-nya tepatlah disebut eros, dan juga sekaligus agape. Kedua unsur tersebut terpadu dalam Kristus, karena dalam diri-Nya Firman menjadi daging (bdk. Yo 1:14).
Firman yang menjadi daging mempersatukan kita semua pada-Nya dan pada sesama kita. Kita dipersatukan menjadi “satu tubuh” dalam komuni yang kita rayakan dalam Ekaristi. Dengan demikian dapat kita mengerti bagaimana agape menjadi istilah untuk menyebut Ekaristi. Dalam Ekaristi cintakasih Allah sampai kepada kita secara jasmani, agar Allah meneruskan karya-Nya di dalam diri kita dan melalui kita secara nyata pula.
Ekaristi sumber daya untuk pelayanan kasih
Dalam Ekaristi Yesus memperagakan lagi kepada kita ketulusan-Nya untuk berbagi kasih, bagaikan roti yang terpecah. Dengan menerima komuni, kita mempersatukan diri kita seutuhnya agar bersedia pula menjadi seperti Yesus, bagaikan roti yang terpecah, tanda ketulusan hati berbagi kasih Allah kepada sesama. Dengan demikian Ekaristi menjadi daya kekuatan bagi kita untuk terlibat dalam pelayanan kasih terutama pada mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir.
Yesus telah menyamakan diri-Nya dengan mereka, dengan mengatakan, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannnya untuk Aku” (Mat. 25: 40)
Selamat merayakan hari-hari penuh rahmat dalam Paska Kristus! Berkah Dalem,
Semarang, Masa Prapaska 2006 J. Pujasumarta, Pr
3 comments:
Sekarang inilah saatnya kedatangan Sang Mesias yang sedang dan akan selalu dinanti-nantikan oleh ummat manusia. Sang Pembebas yang dijanjikan oleh Allah, yang akan membebaskan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Yang menguakkan rahasia kitab-kitab Allah. Dia punya visi, misi dan aksi yang sama seperti Muhammad, Yesus, Musa, Ibrahim, Nuh, serta Adam, yaitu menegakkan hukum Allah atau kerajaan Allah di muka bumi. Ingatlah akan peristiwa yang pernah terjadi 14 abad sebelumnya, dan sekarang ini akan terulang kembali, pasti!! Inilah ketetapan Allah.ruhul-qudus.blogspot.com
Sebenarnya kalau manusia mau membaca kondisi tersebut dan mau memahami ayat-ayat Allah serta mengadakan penelitian terhadap ummat-ummat terdahulu maka manusia akan tahu maksudnya bahkan manusia faham tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang. Tapi sayangnya, karena manusia tidak mau memahami ayat Allah, hal itu menjadikan manusia juga tidak faham maksud dari kondisi tersebut.
Sebagaimana apa yang diungkapakan Yesus dalam kitab Nya. "Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat, sudah di ambang pintu. Demikian juga, jika kamu melihat kondisi alam dan dunia saat ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu."
Dan perumpamaan lain mengatakan: "Apabila ada angin yang membawa awan mendung dan ada suara gemuruh halilintar bahwa itu waktunya akan terjadi hujan."
Kata Yesus: "Hai manusia! Rupanya kamu mengerti tanda-tanda alam, tetapi tanda-tanda zaman kamu tidak mengerti."ruhul-qudus.blodspot.com
Blognya Menarik. akan saya tunggu updates berikutnya.
Salam kenal.
GBU
Post a Comment