Tuesday, April 10, 2007

webkasdokgagasan2006 Paskah Amanat untuk Mencintai Bangsa

Paskah Amanat untuk Mencintai Bangsa

Mgr I Suharyo

Lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa (Yoh 18: 14). Secara historis, kata-kata Imam Agung Kayafas itu menegaskan, Yesus harus dibunuh. Jika tidak, gerakan yang dimulai-Nya akan membuat keadaan masyarakat tidak stabil, resah, atau rusuh.

Keadaan itu akan mengundang campur tangan Romawi yang akan menggunakan kesempatan untuk berbagai kepentingan mereka. Jika ini terjadi, bangsa akan menderita. Secara teologis, kata-kata itu mengandung makna akan munculnya kehidupan baru dengan tata nilai baru pula.

Perselingkuhan bisnis-agama

Terkesan, kata-kata Imam Agung Kayafas terdengar amat nasionalis, berpikir untuk kesejahteraan dan keselamatan bangsa. Namun, di balik kata-kata itu tersembunyi kepentingan pribadi atau kelompok. Kayafas merebut jabatan imam agung tidak hanya dengan suap, tetapi juga dengan janji-janji kerja sama saling menguntungkan dengan penguasa-penguasa lain, antara lain Hanas, mertuanya.

Tampaknya Hanas adalah pemegang monopoli perdagangan di Bait Allah. Ia dan kelompoknya bisa memasang harga hewan korban 20 kali lipat lebih mahal daripada harga yang wajar. Dari monopoli itulah ia menjadi kaya raya.

Ketika masuk Jerusalem dan ke Bait Allah, Yesus melihat praktik nista ini dan melawannya. Menurut pandangan-Nya, rumah doa telah dijadikan sarang penyamun (Lukas 19: 45-46). Tindakan ini tentu merugikan bisnis Hanas. Maka, Hanas menggunakan Imam Agung Kayafas, menantunya, untuk menyingkirkan Yesus. Kematian Yesus antara lain disebabkan perselingkuhan antara bisnis dan agama!

Mencintai bangsa: berpihak

Ketika mendekati kota suci dan melihatnya, Yesus menangisi kota itu dan berkata, "Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu" (Lukas 19: 41-42). Yesus menangis karena Ia sungguh mencintai bangsa-Nya.

Namun, di lain pihak, Ia melihat masyarakat dipimpin oleh pejabat yang hanya mau memperjuangkan kepentingan sendiri dan kelompoknya. Dengan demikian, damai sejahtera yang didambakan kian jauh dari kenyataan. Kesedihan ini mendorongNya untuk menuntaskan belarasa-Nya, sebagai wujud cinta akan bangsanya.

Dalam konteks itu, mencintai bangsa berarti berpihak kepada bagian masyarakat yang paling disengsarakan oleh struktur sosial, ekonomi, politik, dan keagamaan. Orang-orang miskin yang oleh elite keagamaan Farisi disebut rakyat gembel, yang tidak tahu apa-apa mengenai hukum, diperhatikan-Nya. Orang yang diberi cap pendosa, dan dengan demikian tersingkir dari pergaulan sosial, didekati-Nya. Kata-kata keras dilontarkan kepada para pemimpin yang menyesatkan. Dan justru karena cinta sejati kepada bangsanya yang dinyatakan dalam belarasa, Ia harus mati. Inilah paradoks belarasa, bersedia untuk menderita, mengalahkan penderitaan dan melahirkan damai sejahtera sejati.

Tempelkan dalam hati

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2005, ada iklan yang dipasang di berbagai harian dan amat menyentuh hati. Iklan itu berupa gambar bendera Merah Putih dan tulisan "potong di sini, tempelkan dalam hatimu". Umat kristiani yang merayakan Paskah semestinya menyadari apa yang ada di belakang peristiwa kematian Yesus. Ia mati antara lain karena mencintai bangsanya. Dan itu berarti berpihak.

Dengan demikian, bagi umat Kristiani, merayakan Paskah dapat diberi makna kesediaan untuk meneruskan belarasa Yesus bagi bangsanya. Bagi umat Kristiani warga negara Indonesia, merayakan Paskah dapat berarti menempelkan sang Merah Putih di dada. Dengan demikian, upaya untuk mengokohkan kembali semangat kebangsaan mendapat dasar atau inspirasi iman yang amat kokoh.

Keadaban publik: menuju "habitus" baru bangsa

Dalam Sidang Tahunan November 2004, Konferensi Waligereja Indonesia mengeluarkan Nota Pastoral, Keadaban Publik, Menuju Habitus Baru Bangsa. Nota pastoral bisa menjadi landasan untuk mewujudkan upaya mengembalikan semangat kebangsaan yang tampaknya luntur.

Keadaban publik disangga tiga pilar, yaitu negara, pelaku usaha, dan masyarakat warga. Sementara habitus berarti gugus insting, baik individual maupun kolektif, yang membentuk cara merasa, cara berpikir, cara melihat, cara memahami, cara mendekati, cara bertindak, dan cara berelasi seseorang atau kelompok.

Alangkah indahnya hidup di negeri ini jika para pemimpin tidak lagi memandang diri sebagai pejabat pemerintah, tetapi pelayan masyarakat, yang dalam berbagai keputusan ekonomi, misalnya, berpihak kepada rakyat pemilik kedaulatan dan tidak tunduk kepada kapitalisme dan neoliberalisme.

Alangkah sejahteranya masyarakat kita jika para pemilik modal tidak menganggap modal sekadar sebagai milik yang harus ditimbun, tetapi juga mempunyai fungsi sosial yang secara intensional siap digunakan untuk mengembangkan kesejahteraan umum.

Alangkah bahagianya hidup di negeri ini jika orang lain, meski mempunyai latar belakang yang berbeda, tidak dipandang sebagai lawan, tetapi sebagai sesama warga dan warga masyarakat yang dengan bangga menyanyikan lagu Indonesia Raya. Inilah Paskah yang sejati.

Selamat Paskah bagi yang merayakannya.

Mgr I Suharyo Pr Uskup Keuskupan Agung Semarang

Kompas, Sabtu, 15 April 2006

No comments: