<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184666923841973429</id><updated>2011-04-21T13:04:45.790-07:00</updated><title type='text'>inspirasi kas</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://inspirasikas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inspirasikas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>seger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18019764020165012167</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184666923841973429.post-8351114100555771929</id><published>2007-04-10T21:14:00.000-07:00</published><updated>2007-04-10T21:15:07.607-07:00</updated><title type='text'>webkasdokgagasan2007 Menjadi Sederhana Dan Rendah Hati</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;MENJADI SEDERHANA DAN RENDAH HATI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pembicaran yang saya dengar akhir-akhir ini berkisar seputar keengganan beberapa orang Katolik (entah berapa jumlahnya, karena belum dilakukan penelitian) untuk datang ke gereja mengikuti misa, merayakan Ekaristi. Alasan yang dikemukakan antara lain karena kotbah yang disampaikan oleh si pengkhotbah membosankan. Mulai kotbah, katanya, mulai saat umat mengantuk&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;. Kotbah membosankan, katanya, karena tidak kontekstual, tidak menyentuh hati umat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;serta tidak menyangkut masalah kehidupan umat. Apalagi cara penyampaiannya monoton, tidak bersemangat. &lt;b style=""&gt;Mendengar pembicaraan seperti itu Ia diam saja, tetap sederhana dan rendah hati, hadir dalam hosti kecil, tersimpan dalam tabernakel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Itulah sebabnya, katanya, mengapa banyak orang Katolik (entah berapa jumlahnya, karena belum dilakukan penelitian) menyeberang - seperti dulu pada zaman nabi Musa, mengadakan eksodus - ke gereja-gereja lain, agar dapat mendengarkan kotbah yang menyentuh hati, yang dibawakan berapi-api, penuh semangat. Apalagi, kegiatan keagamaan tersebut disemarakkan dengan paduan suara yang melantunkan lagu-lagu merdu, dan disertai tarian rebana dan kecapi. Sementara itu, diserukan agar sebagai orang beriman kita hendaknya menghayati iman dalam gerak dari altar ke pasar, dan dari pasar ke altar. Sayanglah, seruan itu dipahami atau disalahfahami sebagai ajakan untuk mengubah gereja menjadi pasar. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;Sudah lupalah orang akan kata-kata Tuhan, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“….. jangan&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt; kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." (Yoh 2: 16). Meski demikian, mental bisnis telah mewarnai cara kita berelasi dengan Allah. Kita hitung untung rugi secara cermat, apa untungnya ikut misa, apa untungnya berdoa. Pola sikap “aku memberi, agar engkau memberi”, pola sikap &lt;i style=""&gt;“do ut des”,&lt;/i&gt; pola pasar telah merasuki cara beragama kita. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Menyaksikan banyak orang Katolik menyeberang dari altar ke pasar, atau bahkan mengubah altar menjadi pasar, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ia tetap saja sederhana dan rendah hati, hadir dalam hosti kecil, tersimpan dalam tabernakel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bahkan dalam sejarah pernah ada orang-orang yang tidak percaya (entah berapa jumlahnya, karena belum dilakukan penelitian), mengajukan protes keras terhadap ajaran yang telah diimani oleh umat Kristiani selama berabad-abad, yaitu ajaran mengenai kehadiran nyata (Latin: &lt;i style=""&gt;realis presentia&lt;/i&gt;) Yesus dalam Ekaristi Sakramen Mahakudus. Maka muncullah kelompok-kelompok umat yang membangun gedung-gedung gereja tanpa melengkapi dengan tabernakel. Ruang berkumpul untuk mengolah firman dibangun, namun tanpa pusat yang mempersatukan. Meskipun muncul kerinduan supaya semua menjadi satu, sebagaimana didoakan oleh Tuhan &lt;i style=""&gt;“Ut omnes unum sint” (Yoh 17:21),&lt;/i&gt; namun kelompok-kelompok umat semacam itu tumbuh subur bagai jamur di awal musim hujan. Menyaksikan berseraknya kelompok-kelompok umat semacam itu di mana-mana,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia tetap saja sederhana dan rendah hati, hadir dalam hosti kecil, tersimpan dalam tabernakel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;Ia tetap saja sederhana dan rendah hati, sungguh hadir dalam hosti kecil, tersimpan dalam tabernakel. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dengan cara sederhana dan rendah hati Allah yang Kudus mewujudkan kehadiran-Nya, menyatakan jati diri-Nya terus menerus bahwa Dia adalah Allah beserta kita, namanya Imanuel. Penyertaan-Nya diwujudkan dalam rupa sederhana, hosti kecil, tersimpan dalam tabernakel. Yang abadi berdiam dalam ruang dan waktu yang terbatas, agar manusia menjadi kuat sepanjang hidupnya untuk menapaki jalan-jalan di bumi ini, karena hosti itu roti kehidupan yang menjadi makanan sehari-hari selama perjalanan hidup manusia. Sungguh mengagumkan! Hamba yang hina dina makan Tuannya. &lt;i style=""&gt;O res mirabilis! Manducat Dominum pauper servus et humilis!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;Ia tetap saja sederhana dan rendah hati, sungguh hadir dalam hosti kecil, tersimpan dalam tabernakel.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Firman-Nya telah menjadi manusia, dan diam di antara kita (bdk. Yoh 1:14). Firman-Nya mencerahkan hati kita, membuka mata kita, agar kita mampu juga melihat bahwa dalam diri saudari-saudara kita yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir, Ia pun hadir. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;Bila demikian, kita akan terjaga jangan sampai kepedulian kita kepada yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir jatuh ke dalam aktivisme filantropis belaka, akan tetapi bersumber dan bermuara pada pengalaman akan kehadiran Yesus dalam diri mereka. Dalam kesadaran ini dapat kita fahami betul firman-Nya, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40) Dengan demikian Ia menyamakan diri-Nya dengan yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;Ia tetap saja sederhana dan rendah hati, sungguh hadir dalam hosti kecil, tersimpan dalam tabernakel.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Langit dan bumi akan lenyap, tetapi firman-Nya kekal abadi. Dalam roti Ekaristi Ia menunggu kedatangan kita. Firman-Nya berkumandang sepanjang masa, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Mat 11:28-30)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Firman itu dibisikkan dalam hati manusia, &lt;span style="color: rgb(204, 51, 0);"&gt;dalam keheningan&lt;/span&gt;. Bukan dalam hiruk pikuk dan hingar bingar pengeras suara, yang dapat mengaburkan dan bahkan membungkam suara yang berasal dari sumbernya. Firman itu dibisikkan dalam keheningan, agar bukan suara kita sendiri atau suara pengkhotbah yang kita dengarkan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetapi agar suara-Nya dapat kita dengar dengan jelas, supaya meresap dalam lubuk hati kita, dan mengubah hati kita menjadi sederhana dan rendah hati, seperti hati-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Firman-Nya yang kekal abadi itu kita dengar sekarang ini juga,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Marilah kepada-Ku!” Karena itu, marilah kita tanggapi ajakan Sang Penebus, Sahabat Sejati, agar kita datang kepada-Nya, bersembah sujud di hadapan-Nya, yang sungguh hadir dalam hosti kecil, tetap saja sederhana dan rendah hati. Adorasi Ekaristi, bersembah sujud di hadapan Ekaristi Sakramen Mahakudus dapat kita jadikan kesempatan untuk mengalami keabadian kerahiman ilahi-Nya dalam ruang dan waktu kita yang terbatas. Hanya demi kemuliaan-Nya saja, tanpa perhitungan untung atau rugi di pihak kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;DOA ADORASI EKARISTI SAKRAMEN MAHAKUDUS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tuhan Yesus, Engkau bersabda:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Akulah roti hidup yang turun dari surga&lt;i style=""&gt;;&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;barang siapa makan roti ini akan hidup sampai kekal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Roti yang akan Kuberikan ialah daging-Ku &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;dan Aku memberikannnya untuk hidup dunia ini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;(Yoh 6:51)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kami menyembah-Mu Yesus, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;yang bersemayam dalam Ekaristi Sakramen Mahakudus,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;roti hidup yang menjadi makanan kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bersihkanlah kami dari noda dosa,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;agar pantas menyambut roti hidup menjadi daya kekuatan kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Telah Kauberikan roti hidup untuk hidup dunia ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jadikanlah kami mampu menjadi roti hidup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;agar kami menjadi berkat bagi sesama kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tuhan Yesus, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Engkaulah yang mempunyai sabda hidup yang kekal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sekarang kami percaya dan tahu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;(Yoh 6: 68-69)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bunda Maria, Bunda Sakramen Mahakudus,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;doakanlah kami dan seluruh umat manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFooter" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;agar hidup damai dalam perlindunganmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kami panjatkan doa ini untuk menyembah-Mu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;yang bersemayam dalam Ekaristi Sakramen Mahakudus,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Engkaulah Pengantara kami yang bersama Bapa,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Allah sepanjang segala masa. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Amin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;Semarang, Misa Krisma 2007&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;J. Pujasumarta, Pr&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES-AR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184666923841973429-8351114100555771929?l=inspirasikas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inspirasikas.blogspot.com/feeds/8351114100555771929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184666923841973429&amp;postID=8351114100555771929' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/8351114100555771929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/8351114100555771929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inspirasikas.blogspot.com/2007/04/webkasdokgagasan2007-menjadi-sederhana.html' title='webkasdokgagasan2007 Menjadi Sederhana Dan Rendah Hati'/><author><name>seger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18019764020165012167</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184666923841973429.post-3948558799160849167</id><published>2007-04-10T21:13:00.001-07:00</published><updated>2007-04-10T21:13:42.613-07:00</updated><title type='text'>webkasdokgagasan2006 Paskah Amanat untuk Mencintai Bangsa</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span class="bigtitle"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Paskah Amanat untuk Mencintai Bangsa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mgr I Suharyo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa (Yoh 18: 14). Secara historis, kata-kata Imam Agung Kayafas itu menegaskan, Yesus harus dibunuh. Jika tidak, gerakan yang dimulai-Nya akan membuat keadaan masyarakat tidak stabil, resah, atau rusuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keadaan itu akan mengundang campur tangan Romawi yang akan menggunakan kesempatan untuk berbagai kepentingan mereka. Jika ini terjadi, bangsa akan menderita. Secara teologis, kata-kata itu mengandung makna akan munculnya kehidupan baru dengan tata nilai baru pula. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perselingkuhan bisnis-agama &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Terkesan, kata-kata Imam Agung Kayafas terdengar amat nasionalis, berpikir untuk kesejahteraan dan keselamatan bangsa. Namun, di balik kata-kata itu tersembunyi kepentingan pribadi atau kelompok. Kayafas merebut jabatan imam agung tidak hanya dengan suap, tetapi juga dengan janji-janji kerja sama saling menguntungkan dengan penguasa-penguasa lain, antara lain Hanas, mertuanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tampaknya Hanas adalah pemegang monopoli perdagangan di Bait Allah. Ia dan kelompoknya bisa memasang harga hewan korban 20 kali lipat lebih mahal daripada harga yang wajar. Dari monopoli itulah ia menjadi kaya raya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketika masuk Jerusalem dan ke Bait Allah, Yesus melihat praktik nista ini dan melawannya. Menurut pandangan-Nya, rumah doa telah dijadikan sarang penyamun (Lukas 19: 45-46). Tindakan ini tentu merugikan bisnis Hanas. Maka, Hanas menggunakan Imam Agung Kayafas, menantunya, untuk menyingkirkan Yesus. Kematian Yesus antara lain disebabkan perselingkuhan antara bisnis dan agama! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mencintai bangsa: berpihak &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketika mendekati kota suci dan melihatnya, Yesus menangisi kota itu dan berkata, "Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu" (Lukas 19: 41-42). Yesus menangis karena Ia sungguh mencintai bangsa-Nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun, di lain pihak, Ia melihat masyarakat dipimpin oleh pejabat yang hanya mau memperjuangkan kepentingan sendiri dan kelompoknya. Dengan demikian, damai sejahtera yang didambakan kian jauh dari kenyataan. Kesedihan ini mendorongNya untuk menuntaskan belarasa-Nya, sebagai wujud cinta akan bangsanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam konteks itu, mencintai bangsa berarti berpihak kepada bagian masyarakat yang paling disengsarakan oleh struktur sosial, ekonomi, politik, dan keagamaan. Orang-orang miskin yang oleh elite keagamaan Farisi disebut rakyat gembel, yang tidak tahu apa-apa mengenai hukum, diperhatikan-Nya. Orang yang diberi cap pendosa, dan dengan demikian tersingkir dari pergaulan sosial, didekati-Nya. Kata-kata keras dilontarkan kepada para pemimpin yang menyesatkan. Dan justru karena cinta sejati kepada bangsanya yang dinyatakan dalam belarasa, Ia harus mati. Inilah paradoks belarasa, bersedia untuk menderita, mengalahkan penderitaan dan melahirkan damai sejahtera sejati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tempelkan dalam hati &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 2005, ada iklan yang dipasang di berbagai harian dan amat menyentuh hati. Iklan itu berupa gambar bendera Merah Putih dan tulisan "potong di sini, tempelkan dalam hatimu". Umat kristiani yang merayakan Paskah semestinya menyadari apa yang ada di belakang peristiwa kematian Yesus. Ia mati antara lain karena mencintai bangsanya. Dan itu berarti berpihak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan demikian, bagi umat Kristiani, merayakan Paskah dapat diberi makna kesediaan untuk meneruskan belarasa Yesus bagi bangsanya. Bagi umat Kristiani warga negara Indonesia, merayakan Paskah dapat berarti menempelkan sang Merah Putih di dada. Dengan demikian, upaya untuk mengokohkan kembali semangat kebangsaan mendapat dasar atau inspirasi iman yang amat kokoh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keadaban publik: menuju "habitus" baru bangsa &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam Sidang Tahunan November 2004, Konferensi Waligereja Indonesia mengeluarkan Nota Pastoral, Keadaban Publik, Menuju Habitus Baru Bangsa. Nota pastoral bisa menjadi landasan untuk mewujudkan upaya mengembalikan semangat kebangsaan yang tampaknya luntur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keadaban publik disangga tiga pilar, yaitu negara, pelaku usaha, dan masyarakat warga. Sementara habitus berarti gugus insting, baik individual maupun kolektif, yang membentuk cara merasa, cara berpikir, cara melihat, cara memahami, cara mendekati, cara bertindak, dan cara berelasi seseorang atau kelompok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alangkah indahnya hidup di negeri ini jika para pemimpin tidak lagi memandang diri sebagai pejabat pemerintah, tetapi pelayan masyarakat, yang dalam berbagai keputusan ekonomi, misalnya, berpihak kepada rakyat pemilik kedaulatan dan tidak tunduk kepada kapitalisme dan neoliberalisme. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alangkah sejahteranya masyarakat kita jika para pemilik modal tidak menganggap modal sekadar sebagai milik yang harus ditimbun, tetapi juga mempunyai fungsi sosial yang secara intensional siap digunakan untuk mengembangkan kesejahteraan umum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Alangkah bahagianya hidup di negeri ini jika orang lain, meski mempunyai latar belakang yang berbeda, tidak dipandang sebagai lawan, tetapi sebagai sesama warga dan warga masyarakat yang dengan bangga menyanyikan lagu Indonesia Raya. Inilah Paskah yang sejati. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selamat Paskah bagi yang merayakannya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mgr I Suharyo Pr Uskup Keuskupan Agung &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kompas, Sabtu, &lt;st1:date month="4" day="15" year="2006"&gt;15 April 2006&lt;/st1:date&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184666923841973429-3948558799160849167?l=inspirasikas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inspirasikas.blogspot.com/feeds/3948558799160849167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184666923841973429&amp;postID=3948558799160849167' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/3948558799160849167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/3948558799160849167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inspirasikas.blogspot.com/2007/04/webkasdokgagasan2006-paskah-amanat.html' title='webkasdokgagasan2006 Paskah Amanat untuk Mencintai Bangsa'/><author><name>seger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18019764020165012167</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184666923841973429.post-7720854654492357338</id><published>2007-04-10T21:08:00.000-07:00</published><updated>2007-04-10T21:12:47.153-07:00</updated><title type='text'>webkasdokgagasan2006 Bagaikan Roti Yang Terpecah</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;BAGAIKAN ROTI YANG TERPECAH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;(Bdk. Lukas 24:30)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;Tulus berbagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Suatu peristiwa yang sulit &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;saya lupakan terjadi pada waktu Kumpul Bocah beberapa tahun yang lalu. Setelah usai Kumpul Bocah saya antar sekelompok anak pulang ke rumah. Seorang di antaranya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;duduk di samping saya, sementara saya nyopir. Kecuali membawa bingkisan yang disampaikan oleh penyelenggara Kumpul Bocah yaitu Pelayanan Sosial Garam, anak di samping saya tersebut masih membawa pula sebungkus bagian nasi makan siang. &lt;i style=""&gt;“Dik, nasi untuk makan siang kok tidak dihabiskan?”&lt;/i&gt; tanya saya kepadanya. “&lt;i style=""&gt;Ya, tidak saya habiskan. Untuk adik yang di rumah.”&lt;/i&gt; Jawabannya membuat saya terhenyak. Saya kagum terhadap jawaban anak kecil itu! Jawabannya mengungkapkan hati yang tulus berbagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Sharing berikut saya dengar pada waktu pertemuan Kerabat Kerja Ibu Teresa (KKIT) yang berkumpul pada suatu pertemuan bulanan Minggu II. Ada juga acara Kumpul Bocah yang diselenggarakan di rumah seorang anggota. Acaranya memasak agar anak-anak dapat belajar untuk semakin mampu bekerjasama. Sementara itu ada seorang Bapak pemulung lewat di depan rumah. Bapak tersebut diundang, dan ditawari apakah mau diberi nasi masakan anak-anak. Sepiring nasi diberikan kepada Bapak tersebut. Namun, apa yang kemudian dibuatnya? Nasi itu kemudian dibungkusnya dengan kertas koran. &lt;i style=""&gt;“Lho, kenapa tidak dimakan, Pak?”&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;“Saya pengin makan nasi ini bersama isteri saya di rumah!”&lt;/i&gt; jawabnya. Peristiwa inipun sangat mengesankan, karena hatinya tulus berbagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Mungkin anda juga memiliki kisah-kisah serupa! Peristiwa-peristiwa sederhana tersebut mengesankan karena melalui peristiwa-peristiwa tersebut terungkap isi hati yang tulus berbagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;Ia memecah-mecahkannya...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;Ketika itu, dua murid pulang ke Emaus. Sesampai di rumah mereka mohon kepada teman seperjalanan mereka agar berkenan tinggal bersama-sama dengan mereka sebab hari telah menjelang malam. Lukas mencatat peristiwa yang terjadi selanjutnya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;“Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, ....”&lt;/i&gt; (Luk 24:30-31) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;Dengan memecah-mecahkan roti Yesus hendak menerangkan kepada kedua murid makna derita dan kematian-Nya. Bagaikan roti yang terpecah, Ia hendak mengatakan, &lt;i style=""&gt;“Makanlah Aku, dan kamu akan selamat!”&lt;/i&gt; Bagaikan roti yang terpecah, Ia hendak mengatakan, &lt;i style=""&gt;“Tak apa Aku sakit dan menderita, asal kamu bahagia!”&lt;/i&gt; Bagaikan roti yang terpecah, Ia mengatakan, &lt;i style=""&gt;“Aku telah mencintaimu sehabis-habisnya sampai mati!”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;Ketika itu terbukalah mata mereka, dan mereka pun mengenal Dia. Dia benar-benar tulus berbagi karena cintakasih-Nya. Ketulusan hati-Nya untuk berbagi telah dikenal oleh para murid selama mengikuti-Nya. Telah dibuktikan dengan sempurna dalam kematian-Nya di salib. Dan kemudian diabadikan karena Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati.. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;Agape&lt;b style=""&gt;, &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;cintakasih yang menyempurnakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;Bagaikan roti yang terpecah, Yesus mencintai dan mengasihi manusia sehabis-habisnya, agar manusia selamat dan bahagia. Cintakasih sedemikian itu disebut dalam bahasa Yunani &lt;i style=""&gt;“agape”.&lt;/i&gt; &lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;Dalam Ensiklik “Allah adalah kasih” Bapa Suci Benedictus XVI menyatakan bahwa kasih Allah &lt;i style=""&gt;(agape)&lt;/i&gt; telah menyempurnakan cinta &lt;i style=""&gt;(eros&lt;/i&gt;). Meskipun berbeda keduanya tidak dapat dipisahkan.. &lt;i style=""&gt;Eros&lt;/i&gt; tanpa &lt;i style=""&gt;agape&lt;/i&gt; akan dimiskinkan sekedar menjadi asmara yang berorientasi pada diri sendiri, sedangkan &lt;i style=""&gt;agape&lt;/i&gt; tanpa &lt;i style=""&gt;eros&lt;/i&gt; akan dimiskinkan sekedar cinta sepihak. Allah mencintai, dan cintakasih-nya tepatlah disebut &lt;i style=""&gt;eros&lt;/i&gt;, dan juga sekaligus &lt;i style=""&gt;agape.&lt;a name="_ftnref7"&gt; &lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Kedua unsur tersebut terpadu dalam Kristus, karena dalam diri-Nya Firman menjadi daging (bdk. Yo 1:14). &lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;Firman yang menjadi daging mempersatukan kita semua pada-Nya dan pada sesama kita. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kita dipersatukan menjadi “satu tubuh” dalam komuni yang kita rayakan dalam Ekaristi. Dengan demikian dapat kita mengerti bagaimana &lt;i style=""&gt;agape&lt;/i&gt; menjadi istilah untuk menyebut Ekaristi. Dalam Ekaristi cintakasih Allah sampai kepada kita secara jasmani, agar Allah meneruskan karya-Nya di dalam diri kita dan melalui kita secara nyata pula.&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;Ekaristi sumber daya untuk pelayanan kasih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;Dalam Ekaristi Yesus memperagakan lagi kepada kita ketulusan-Nya untuk berbagi kasih, bagaikan roti yang terpecah. Dengan menerima komuni, kita mempersatukan diri kita seutuhnya agar bersedia pula menjadi seperti Yesus, bagaikan roti yang terpecah, tanda ketulusan hati berbagi kasih Allah kepada sesama. Dengan demikian Ekaristi menjadi daya kekuatan bagi kita untuk terlibat dalam pelayanan kasih terutama pada mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 186pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1029" type="#_x0000_t75" style="'width:2in;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Woly\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="0E150"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Yesus telah menyamakan diri-Nya dengan mereka, dengan mengatakan, &lt;i style=""&gt;“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannnya untuk Aku”&lt;/i&gt; (Mat. 25: 40)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Selamat merayakan hari-hari penuh rahmat dalam Paska Kristus! Berkah Dalem,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;Semarang, Masa Prapaska 2006&lt;span style=""&gt;                                             &lt;/span&gt;J. Pujasumarta, Pr&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184666923841973429-7720854654492357338?l=inspirasikas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inspirasikas.blogspot.com/feeds/7720854654492357338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184666923841973429&amp;postID=7720854654492357338' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/7720854654492357338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/7720854654492357338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inspirasikas.blogspot.com/2007/04/bagaikan-roti-yang-terpecah-bdk.html' title='webkasdokgagasan2006 Bagaikan Roti Yang Terpecah'/><author><name>seger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18019764020165012167</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184666923841973429.post-828887507337986623</id><published>2007-04-10T21:07:00.001-07:00</published><updated>2007-04-10T21:07:55.303-07:00</updated><title type='text'>webkasdokgagasan2005 Pancasila Dasar Tata Budaya Berbangsa dan Bernegara</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span class="bigtitle"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PANCASILA Dasar Tata Budaya Berbangsa dan Bernegara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PESAN SIDANG KWI (22-26 NOVEMBER 2005)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PANCASILA&lt;br /&gt;Dasar Tata Budaya Berbangsa dan Bernegara &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saudara saudari yang terkasih, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1. Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 22-26 November 2005 sudah usai. Kebersamaan dalam sidang akan kami lanjutkan dengan semangat dan roh pengabdian yang sama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2. Dalam kenangan akan kebersamaan di dalam Sidang Agung Gereja katolik Indonesia (SAGKI) 2005 dan dalam suasana syukur kepada Tuhan serta terima kasih kepada Anda semua, dari kedalaman lubuk hati, kami berharap semoga hasil SAGKI 2005 ini benar-benar membawa kebaikan, tidak hanya bagi Anda sendiri secara pribadi, atau bagi kita komunitas kristiani, tetapi juga bagi masyarakat luas. Besarnya tantangan yang kita hadapi, menyadarkan kita akan perlunya dua hal pokok. Pertama, pembatinan habitus baru ke dalam hidup pribadi kita masing-masing. Kedua, sosialisasi secara cerdas ke dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga di dalam masyarakat tumbuh tata budaya baru dan dengan demikian juga tata budaya bernegara yang baru pula. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3. Dalam pembicaraan selama Sidang KWI, masih ada satu hal penting yang muncul sebagai keprihatinan. Di balik masalah-masalah mendesak yang kita renungkan dan bicarakan dalam SAGKI 2005, ada satu hal yang mendasar yaitu mengenai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Pengamatan sepintas membuat kita merasa bahwa nilai-nilai luhur Pancasila sudah menjadi kabur atau bahkan mungkin sengaja dikaburkan. Akibatnya keadaban publik tidak terbangun dan banyak orang disengsarakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;4.Kami ingin mengajak Anda mengingat kembali apa yang selama ini telah kami sampaikan mengenai Pancasila di dalam Surat-Surat Gembala, khususnya surat Gembala yang kami sampaikan selama masa krisis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;4.1. Pada tahun 1997, kita sadari bersama bahwa Pancasila adalah landasan dan sekaligus acuan yang aman dan kuat untuk memecahkan permasalahan bangsa. Dalam Surat Gembala berjudul ”Keprihatinan Dan Harapan”, kami menulis : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;” .... kita yakin bahwa Pancasila merupakan landasan maupun acuan yang kuat dan aman untuk memecahkan dan mengembangkan seluruh kehidupan dan pembangunan bangsa. Maka Pancasila tidak boleh tinggal slogan, melainkan betul-betul diwujudkan dalam kenyataan kehidupan kita” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;4.2. Pada tahun 2001, kami mengajak Anda semua untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila, meskipun Pancasila telah diselewengkan untuk kepentingan politik kekuasaan. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam Surat Gembala ”Tekun Dan Bertahan Dalam Pengharapan, Menata Moralitas Bangsa”, kami menulis : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Dalam hubungan ini kami ingatkan kembali mengenai pentingnya Pancasila. Kenyataan bahwa Pancasila di bawah Pemerintah Orde Baru telah disalahgunakan sebagai ideologi penunjang Pemerintahan yang tidak mau mencari legitimasi rakyat, tidak boleh menjadi alasan untuk meremehkan Pancasila. Hanya atas dasar Pancasila pluralitas etnik, budaya, religius dan sosial masyarakat seluruh Nusantara bersepakat mau bersatu dalam satu negara. Demi persatuan dan kesatuan bangsa komitmen bangsa Indonesia pada Pancasila sebagai falsafah dasar negara perlu senantiasa ditegaskan kembali.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;5. Mari kita hayati kembali Pancasila sebagai daya untuk melayani rakyat banyak menuju kesejahteraan yang merata. Mari kita bangkit dan Pancasila kita jadikan daya sosial, kekuatan untuk integrasi, misalnya integrasi antara mereka yang datang sebagai transmigran dan penduduk asli. Mari kita jadikan Pancasila sebagai kekuatan untuk terbinanya solidaritas sosial antara yang memiliki lebih dan mereka yang berkekurangan, antara mereka yang lebih terpelajar dan mereka yang masih terbelakang. Dengan demikian politik yang dikembangkan adalah untuk kesejahteraan bersama. Dengan demikian subur kembalilah persaudaraan dan solidaritas nasional secara nyata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saudara-saudari yang terkasih, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;6. Semoga dalam usaha Anda menangani, mengolah dan mencari jalan keluar bagi masalah-masalah mendesak yang menimpa kita semua, Anda menemukan Pancasila sebagai kerangka dasar yang semakin teguh. Dalam mencari jalan keluar bagi masalah-masalah hidup bersama, marilah kita menghayati kembali nilai-nilai luhur Pancasila. Nilai luhur itu haruslah mempengaruhi tata hubungan kita dengan sesama, dengan alam dan dengan Tuhan. Dengan demikian terbangunlah tata hidup berbudaya dan bernegara yang baru. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;7. Sebagai manusia beriman, mengamalkan Pancasila berarti juga menghayati iman. Sebagai makluk sosial, dalam Pancasila kita dapat menemukan dasar untuk mengembangkan persaudaraan sejati dengan siapa saja, termasuk mereka yang memusuhi kita. Bila keadaan diwarnai pertentangan, semoga Pancasila dapat menjadi yang menghubungkan; bila keadaan tertutup, Pancasila dapat menjadi pembukanya; bila tercerai berai, Pancasila dapat menjadi pemersatunya. Semoga Pancasila dapat menjadi sarana untuk mengembangkan sikap terbuka bagi setiap warga bangsa ini. Semoga nilai-nilai luhur Pancasila dan nilai luhur agama dapat saling melengkapi dan dengan demikian memperluas wawasan keagamaan kita. Agama sebagai lembaga saja dengan mudah dapat jatuh ke dalam ketertutupan, dalam kesempitan dan jalan buntu bagi masalah-masalah majemuk yang kita temui di dalam kehidupan ini. Agama tidak dapat berdiri sendiri dan tidak boleh semua hal diagamakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saudara-saudari, &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;8. Semoga dalam perjuangan mengamalkan kebaikan di dalam masyarakat, Anda mengalami panggilan luhur dari Tuhan sendiri, sehingga Anda juga dapat menata hidup. Semoga dengan demikian kehadiran Anda dan komunitas Anda tidak hanya menjadi rahmat bagi diri dan kelompok sendiri, tetapi juga masyarakat seluas-luasnya. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Teriring doa dan berkat kami, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;st1:place&gt;Para&lt;/st1:place&gt; Waligereja Seluruh &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184666923841973429-828887507337986623?l=inspirasikas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inspirasikas.blogspot.com/feeds/828887507337986623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184666923841973429&amp;postID=828887507337986623' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/828887507337986623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/828887507337986623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inspirasikas.blogspot.com/2007/04/webkasdokgagasan2005-pancasila-dasar.html' title='webkasdokgagasan2005 Pancasila Dasar Tata Budaya Berbangsa dan Bernegara'/><author><name>seger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18019764020165012167</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184666923841973429.post-3254025688090451365</id><published>2007-04-10T21:05:00.000-07:00</published><updated>2007-04-10T21:06:28.349-07:00</updated><title type='text'>webkasdokgagasan2004 Kitab Wahyu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoTitle"&gt;GEREJA : KOMUNITAS PENGHARAPAN&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Telaah tentang Kitab Wahyu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h1 style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h1 style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h1 style="text-align: left; line-height: 150%;" align="left"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;BAGIAN I : PENGANTAR TEMA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;1. Pada tahun 1997, Konferensi Waligereja Indonesia mengeluarkan Surat Gembala Prapaska dengan judul &lt;i style=""&gt;Keprihatinan dan Harapan. &lt;/i&gt;Di dalamnya antara lain dikatakan, “Kita semakin yakin bahwa kita sedang menghadapi kemerosotan moral hampir di semua bidang kehidupan masyarakat yang dapat membahayakan, bahkan menghancurkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;persatuan, masa depan dan keselamatan bangsa kita” [1]&lt;b style=""&gt;.&lt;/b&gt; Sesudah sekian tahun sejak yang disebut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jaman reformasi, keadaan masyarakat, bangsa dan negara tampaknya tidak menjadi lebih baik [2] &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;2. Kenyataan yang serupa tidak hanya dialami oleh bangsa Indonesia, tetapi juga oleh seluruh dunia. Sedikit ilustrasi dari sejarah dunia, kiranya bisa menjelaskan konstatasi ini. Menjelang berakhirnya Perang Dunia II, yaitu pada bulan Juli 1944, para tokoh negara-negara Barat mengadakan pertemuan di Bretton Wood, New Hampshire, Amerika Serikat untuk mencegah terulangnya perang dan membangun kembali dunia yang boleh dikatakan hancur oleh kekejaman perang. Dipikirkan untuk membangun dunia baru yang lebih baik, melalui sistem ekonomi untuk mempromosikan pembangunan ekonomi global. Memasuki abad ke-21, mimpi untuk membangun dunia baru yang lebih baik itu ternyata tidak menjadi kenyataan. Mungkin justru sebaliknya yang harus dikatakan.[3]&lt;b style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h1 style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" lang="SV"&gt;3. Menghadapi kenyataan seperti itu, orang bisa mengambil sikap yang berbeda-beda. Sebagian orang menunjukkan sikap masa bodoh. Sebagian lagi menyerah pada yang mereka sebut nasib. Yang lain menjadi marah dan frustrasi. Pertanyaannya ialah, sikap apa yang diharapkan dari orang kristiani sebagai pribadi maupun sebagai warga Gereja berhadapan dengan kenyataan seperti ini ? Seharusnya orang beriman tetap teguh di dalam pengharapan&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" lang="SV"&gt;[4] . Dengan landasan pengharapan ini, orang beriman, baik sendiri-sendiri maupun sebagai warga Gereja, bisa melibatkan diri untuk terus berjuang membangun dunia yang lebih baik. Bagaimana orang atau Gereja bisa belajar berharap ? Ada banyak jalan. Salah satunya adalah dengan belajar dari Kitab Wahyu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Telaah ringkas atas Kitab Wahyu inilah yang merupakan pokok paparan dalam tulisan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h2&gt;&lt;span style="font-style: normal;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5 style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;BAGIAN II : PERSPEKTIF HARAPAN DALAM KITAB WAHYU&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;h1 style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;" lang="SV"&gt;4. Dibandingkan dengan tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang lain, Kitab Wahyu terasa istimewa. Keistimewaan itu segera terasa kalau kitab itu mulai dibaca. Gayanya, lambang-lambang yang dipakainya dan jalan pikirannya sulit dimengerti, bahkan membingungkan [5]. Maka tidak mengherankan kalau ada begitu banyak ragam tafsiran atas Kitab Wahyu, termasuk penafsiran yang harus dikatakan aneh, dilihat dari sudut ilmu tafsir yang lazim [6].&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A. PENAFSIRAN YANG MENYIMPANG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;5.1. Salah satu contoh penafsiran ekstrem dan menyimpang dilihat dari sudut ilmu tafsir yang lazim adalah yang dilakukan oleh seorang bernama Vernon Wayne Howell, pemimpin kelompok yang menamakan diri Ranting Daud. Mereka tinggal di suatu wilayah yang mereka sebut Ranch Apocalypse. Sejak tanggal 28 Februari 1993, penanggung jawab keamanan Amerika Serikat mengepung Ranch Apocalypse, karena penghuninya dianggap melanggar hukum, yaitu menumpuk senjata dan amunisi secara ilegal. Tetapi sekte yang menghuni Ranch itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berpikir lain. Mereka dengan penuh keyakinan sedang mempersiapkan pertempuran terakhir antara kekuatan baik melawan kekuatan jahat, yang menurut Why 16:6 akan terjadi di Harmagedon. Ketika dikepung, pimpinan Rach itu mengatakan baru bersedia menyerah kalau ia selesai menulis tafsiran mengenai tujuh meterai yang disebut dalam Why 5:1. Why 5:2 memuat pertanyaan, “siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya ?”. Pertanyaan ini dijawab pada Why 5:5 :”… sesungguhnya singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya”. Atas dasar teks ini, Vernon Wayne Howell berganti nama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia mengidentifikasi diri dengan tokoh yang disebut dalam teks tersebut dan mengambil nama David Koresh. David adalah Daud yang disebut dalam ayat itu, sedang Koresh adalah Raja Persia yang digunakan oleh Allah untuk membebaskan umat-Nya dari pembuangan Babilonia (Yes 45). Dengan demikian ia menyamakan diri dengan Mesias, keturunan Daud dan merasa dirinya sebagai mandataris untuk menuntun dunia ini ke perang terakhir yang menentukan yang akan terjadi di Harmagedon. Ini semua berakhir dengan bunuh diri massal yang terjadi pada hari Senin, tanggal 19 April 1993, ketika kamp mereka diserang oleh penanggungjawab keamanan [7]. Tampaknya timbul dan tenggelamnya sekte-sekte yang menganut ajaran sejenis itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak akan pernah berhenti [8]. &lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Di samping alasan-alasan sosio-religius dan sosio-psikologis, salah satu pemicunya adalah penafsiran sewenang-wenang atas Kitab Wahyu.&lt;i style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;5.2. Harmagedon digambarkan sebagai padang fiktif. Nama ini adalah transliterasi ke dalam bahasa Yunani dari nama kota Megido, yang terletak pada celah pengunungan di wilayah Galilea. Karena tempatnya amat strategis, merupakan persimpangan jalan dari Afrika (Mesir), Eropa dan Asia, sejak jaman Perjanjian Lama kota itu selalu menjadi ajang pertempuran. Menurut pemikiran David Koresh - atau mungkin lebih tepat imaginasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ilusifnya - , pertempuran terakhir ini seharusnya terjadi di Timur Tengah, yang sampai saat itu selalu berada dalam situasi politik yang panas. Situasi panas itu dibayangkan akan menyulut perang nuklir yang menghancurkan dunia. Tetapi ternyata sekitar tahun 1980, Timur Tengah menjadi relatif tenang. Oleh karena itu, masih menurut imaginasi David Koresh, padang kehancuran itu pindah ke Waco, Texas, Amerika Serikat. Ketika pasukan keamanan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;benar-benar mengepung Ranch Apocalypse itu, yakinlah mereka bahwa yang mereka rekonstruksi benar-benar syah. Dan seperti sudah dikatakan, semuanya berakhir secara tragis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;5.3. Ternyata ada orang yang menafsirkan Kitab Wahyu dengan cara seperti itu. Gaya penafsiran semacam ini, di lingkungan orang-orang yang berada dalam situasi psikologis tertentu (misalnya, merasa hidup tidak bermakna) menciptakan yang disebut “krisis mentalitas”. Dengan penafsiran seperti itu, orang dibuat tidak berani melawan, takut, tunduk sampai disuruh apa pun mereka bersedia. Seolah-olah mereka terbius, dan dalam keadaan seperti itu David Koresh memasukkan ide tentang akhir jaman, perang antara yang baik dan yang jahat yang langsung melibatkan seluruh diri mereka dan mempersatukan mereka untuk melakukan suatu gerakan menghancurkan kejahatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;5.4. Seperti sudah dikatakan di atas, kelompok atau sekte Ranting Daud yang dipimpin oleh David Koresh ini bukanlah yang pertama dalam sejarah, dan juga bukan yang terakhir. Kelompok semacam ini biasanya muncul dalam lingkungan masyarakat “marginal”, tertekan atau kalah dalam percaturan hidup di dunia ini. Beban-beban hidup terlalu berat untuk ditanggung. Daya tahan mereka yang biasa, tidak cukup untuk menghadapi tantangan-tantangan dunia ini. Oleh karena itu tidak jarang mereka menciptakan dunia lain. Di dunia lain itulah mereka dapat tampil, merasa terangkat dan mempunyai kuasa. Tidak mengherankan bahwa kelompok seperti itu bisa bertumbuh subur di negera-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan. Sebagian tidak kecil dari masyarakat maju mengalami krisis identitas, bukan hanya sebagai pribadi tetapi sebagai masyarakat. &lt;/span&gt;Mereka merasa resah, secara mental maupun spiritual. Mereka berusaha mencari makna kehidupan, tetapi tidak sabar menanti jawaban dalam perjuangan hidup yang nyata ini yang dianggap penuh dengan kejahatan. Kalau proses semacam ini berlanjut, tahap berikutnya ialah perasaan putus asa. Dan dalam keadaan seperti itu mereka mencari jalan pintas yang dirasionalisasi dengan kategori-kategori berpikir keagamaan. Dalam kombinasi itu mereka menemukan bentuk-bentuk kehidupan yang ekstrem, biasanya dengan ciri-ciri berikut ini : ajarannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mudah, jelas, dramatis, memanipulasi kerinduan atau ketakutan psikologis tertentu (takut salah, sesal berlebihan, merasa berdosa). Salah satu ajaran yang menyelesaikan segala-galanya adalah kiamat atau akhir jaman. Kalau dunia kiamat, seluruh kesulitan dan kekacauan hidup ini akan berakhir. Dalam konstruksi berpikir semacam ini, Kitab Wahyu bisa dengan mudah disalahgunakan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;B. MENGGALI PESAN KITAB WAHYU&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;6. Ternyata Kitab Wahyu dapat dengan mudah disalah-tafsirkan, bukan hanya dalam tingkatan paham melainkan sampai ke tingkatan tindakan yang melibatkan seluruh pribadi dan banyak orang. Sementara itu sebenarnya penulis Kitab Wahyu, seperti halnya penulis-penulis Kitab Suci yang lain, ingin mengembangkan iman para pembacanya agar mereka berani bertahan dan teguh berjuang dalam peziarahan hidup&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nyata yang penuh dengan tantangan ini. Pesan seperti itu hanya dapat ditangkap, kalau Kitab Wahyu dimengerti dengan kaidah-kaidah penafsiran yang lazim, yaitu dengan memperhatikan jenis sastra [9] &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;7. Meskipun disebut Kitab Wahyu, tulisan ini tidak memuat kebenaran-kebenaran yang samasekali baru dan berbeda dibandingkan dengan tulisan-tulisan PB yang lain. Yang baru ialah gaya dan pengungkapannya dalam cara berpikir umat kristiani yang sesuai dengan zamannya. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa isi pokok warta Kitab Suci Perjanjian Baru adalah Kerajaan Allah. Perjanjian Lama merupakan persiapan pewartaan itu. Injil-injil berisi pewartaan Kerajaan Allah oleh Yesus dalam sabda dan karya-Nya. Kisah Para Rasul berisi pewartaan Kerajaan Allah oleh Gereja yang sedang berkembang. Adapun Surat-surat mengemukakan berbagai perwujudan Kerajaan Allah dalam kehidupan jemaat yang menghadapi berbagai macam tantangan dan keadaan yang berbeda-beda. Kitab Wahyu memusatkan perhatian pada kepenuhan Kerajaan Allah pada akhir jaman. Untuk pewartaan itu digunakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;jenis sastra apokaliptik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;8. Sastra apokaliptik muncul setelah sastra kenabian berhenti. Ketika sastra apokaliptik tidak dipakai lagi, yang muncul menyusul adalah rabinisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;8.1 Kenabian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Pada dasarnya yang dilakukan oleh para nabi ialah membaca situasi aktual dan mengartikannya dalam terang firman Allah. Para nabi bisa menjalankan peran itu dengan baik karena mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mempunyai karisma kenabian yang tidak dimiliki oleh orang lain. Karisma kenabian ini menjamin bahwa yang dipikirkan, dirasakan dan dikatakan oleh para nabi benar-benar sesuai dengan pikiran, perasaan dan rencana Allah. Kecuali itu mereka juga mempunyai “kemampuan analisis” yang tajam atas situasi politik, budaya, keagamaan serta realitas kehidupan pada umumnya yang seringkali amat kompleks. Atas dasar kemampuan itu para nabi melontarkan kritik-kritik kenabian mereka dari dalam, sebagai orang-orang yang sungguh terlibat dalam kehidupan bangsanya. Kata-kata nabi disebut nubuat, bukan karena yang mereka katakan adalah ramalan mengenai masa depan. Nubuat yang pasti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terlaksana adalah jaminan bahwa yang dikatakan oleh para nabi adalah benar-benar firman Allah. Lama kelamaan arus kenabian ini menjadi lemah dan akhirnya berhenti. Ada beberapa alasan yang dapat disebut. Pertama,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kenisah sudah hancur, sehingga penyalah-gunaannya (=ibadah palsu) yang merupakan sasaran kritik keras para nabi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga sudah tidak perlu lagi. Kecua, politik dan agama menjadi satu, sehingga antitesis dialektis antara raja (=politik) dan nabi (=iman yang harus mewujud dalam hidup nyata) tidak ada lagi. Akhir arus kenabian membuka jalan bagi munculnya aliran dan sastra apokaliptik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;8.2. Apokaliptik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kalau pewartaan kenabian memusatkan perhatian pada masa sekarang, apokaliptik mengarahkan perhatian ke masa depan, yaitu akhir sejarah. Akhir sejarah ini dilihat sebagai tumpuan kepastian harapan. Atas dasar kepastian itu orang dapat dan berani setia di jaman sekarang. Ada dua faktor yang mendorong munculnya pola pemikiran seperti ini. Pertama, hidup iman orang Yahudi sudah matang. Hidup iman ini dibangun atas dasar seluruh Perjanjian Lama, yang isi pokoknya adalah keyakinan bahwa Allah selalu setia dan menunjukkan belaskasihan-Nya. Kedua, situasi sosial-politik-religius yang mencengkam. Karena iman mereka, orang-orang beriman dianiaya secara besar-besaran . Dalam keadaan seperti itu mereka harus menemukan makna pengalaman hidup mereka ini. Makna ini ditemukan dalam keyakinan bahwa Allah yang sejak dulu setia, akan selalu setia juga selama-lamanya. Kesetiaan Allah ini adalah jaminan bagi akhir yang gilang gemilang, entah bagaimana dan entah kapan. Kalau para nabi berkeyakinan bahwa keadaan sekarang harus berubah dan dibangun kembali atas dasar sabda Tuhan, penulis apokaliptik mempunyai pandangan lain. Secara populer pola berpikir apokaliptik dapat disejajarkan dengan orang yang mau meloncat jauh. Seorang peloncat jauh akan mundur mengambil ancang-ancang. Dari titik ancang-ancang ia akan berlari cepat dan pada titik tertentu ia meloncat jauh ke depan. Pola berpikir apokaliptik menilai keadaan dunia sekarang ini benar-benar mengerikan, tidak dapat diperbaiki lagi. Untuk menilai kepada masa sekarang yang kacau ini, ia mundur, mengenangkan karya-karya Allah di masa lampau. Kesimpulannya ialah Allah selalu setia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Atas dasar kayakinan ini diambil kesimpulan untuk masa depan : Allah yang telah terbukti setia, akan selalu setia pula selama-lamanya. Maka, entah bagaimana dan entah kapan, Allah yang setia itu akan memberikan kemuliaan serta kemenangan kepada orang-orang yang percaya dan setia kepada-Nya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keyakinan iman inilah yang menjadi landasan sekaligus kekuatan untuk berani dan setia berjuang dalam kehidupan nyata yang penuh dengan kesulitan dan tantangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;8.3.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rabinisme&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Setelah arus apokaliptik mundur, muncullah arus baru yaitu rabinisme. Yang berkembang dalam arus ini adalah tafsiran atas teks-teks Perjanjian Lama dalam rangka usaha mengetrapkan dan mengartikannya secara aktual. Muncullah Targumdan Talmud [10]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;8.4. Apokaliptik bukan satu-satunya jenis atau bentuk sastra yang dipakai dalam Kitab Wahyu. Why 2-3 berbentuk surat. Bahkan dapat dikatakan bahwa pada dasarnya Kitab Wahyu berciri kenabian [11]. Selain itu ada yang melihat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kitab Wahyu sebagai buku liturgi yang menggunakan model liturgi Yahudi untuk mengungkapkan pengharapan [12]&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5 style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;h5 style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;9. Seperti sudah dikatakan, tema dominan yang terdapat dalam Kitab Wahyu ialah rahasia kesetiaan Allah. Kesetiaan Allah ini sudah dialami oleh umat sepanjang sejarah dan diyakini akan berlangsung terus sampai kepenuhan waktu. Kesetiaan Allah inilah yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjamin kemenangan gilang-gemilang, yang dijanjikan kepada umat yang juga setia dalam pengharapan. Rahasia ini begitu besar dan mendalam, sehingga amat sulit atau bahkan tidak mungkin dirumuskan. &lt;/h5&gt;  &lt;h5 style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;h5 style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;9.1. Rahasia itu dapat ditangkap melalui berbagai cara. Yang dapat disebut adalah : campur tangan Roh (1:10; 4:2), penglihatan (17:3; 21:10; 54 x dalam Kitab Wahyu) dan perantaraan para malaikat (1:1; 67 x dalam Kitab Wahyu). &lt;i style=""&gt;Malaikat&lt;/i&gt; adalah utusan Allah yang mempunyai berbagai macam peranan dalam melaksanakan rencana penyelamatan Allah. Dalam banyak peristiwa malaikat-malaikat itu tampil sebagai “penafsir”, yang memberikan penjelasan kepada para murid Yesus, mengenai peristiwa-peristiwa yang sulit ditangkap (bdk Mat 28:1-10 dsj; Yoh 20:11-18). Sejalan dengan itu, &lt;i style=""&gt;penerangan Roh dan penglihatan &lt;/i&gt;perlu dimengerti dengan kacamata yang sama, yaitu diletakkan dalam rangka karya penyelamatan Allah. Kalau demikian, penglihatan dapat dikatakan merupakan buah perenungan iman, penegasan dan pemahaman yang jernih berkat bantuan rahmat. Penglihatan itu terjadi di hadapan Tuhan, di tengah-tengah jemaat dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keadaan aktual. Kesimpulan ini cukup jelas dalam teks-teks berikut . Pada Why 1:10, dikatakan bahwa pada hari Tuhan, penulis dikuasai oleh Roh. Sebagai buahnya ia menulis surat kepada ketujuh jemaat. Kemudian pada Why 4:1-2, sekali lagi penulis dikuasai oleh Roh. Karena itu ia mulai membaca tanda-tanda jaman dan sejarah dunia pada umumnya dalam terang iman.&lt;/h5&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;9.2. Rahasia Allah itu diungkapkan dalam lambang-lambang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berbicara dengan menggunakan lambang adalah hal yang sangat biasa dalam Kitab Suci. Dalam 1 Raj 11:30-32 diceritakan mengenai nabi Ahia yang memegang kain baru yang di badannya, lalu mengoyakkannya menjadi duabelas koyakan dan berkata kepada Yerobeam, “Ambillah bagimu sepuluh koyakan, sebab beginilah firman Tuhan, Allah Israel : sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari tangan Salomo dan akan memberikan kepadamu sepuluh suku…”. Kebanyakan lambang yang dipakai dalam kitab Wahyu diambil dari tradisi kenabian. Ada lambang &lt;i style=""&gt;umum&lt;/i&gt;:&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;perempuan melambangkan jemaat (Why 12:1) atau kota (Why 17:3); tanduk adalah lambang kekuasaan (Why 5:6; 12:3); terompet atau sangkakala adalah suara ilahi/surgawi yang menjadi tanda berlangsungnya karya Allah (Why 1:10; 8:2); jubah putih adalah lambang dunia kemuliaan (Why 6:11; 7:9.13); laut adalah lambang kuasa yang merusak, sumber malapetaka (Why 13:1; 21:1). Lambang itu juga dapat berupa &lt;i style=""&gt;warna &lt;/i&gt;: misalnya putih (Why 1:14; 2:17; 6:11) berarti kemenangan; merah (Why 6:4; 17:3) berarti kekerasan, tetapi juga darah para martir; hitam ( Why 6:5.12) berarti kematian. Lambang juga bisa berupa &lt;i style=""&gt;angka&lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;: tujuh (Why 1:11; 3:1; 8:1) berarti sempurna, utuh, penuh; enam (Why 13:18) berarti tidak sempurna, sementara; tiga setengah (Why 12:14) juga berarti tidak sempurna, waktu pencobaan, penganiayaan; angka tiga setengah ini bisa mengambil beberapa bentuk, misalnya satu masa tambah dua masa tambah setengah masa, yang sama dengan empat puluh dua bulan (Why 11:2; 13:5) atau 1260 hari (Why 11:3; 12:6); duabelas melambangkan Israel; seribu adalah jumlah yang tak dapat dihitung (Why 7:4-8; 14:1-5) [13]&lt;b style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;10. Keyakinan iman pokok yang termuat dalam Kitab Wahyu dapat dirumuskan dengan kata lain sebagai berikut : sejarah, dalam segala perputarannya berada dalam rencana serta kuasa Allah yang selalu setia. Sejarah itu akan disempurnakan oleh Allah yang sama. Kesimpulan itu dapat dijelaskan atas dasar ayat-ayat kunci dalam Kitab Wahyu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;10.1. &lt;i style=""&gt;Rencana penyelamatan Allah&lt;/i&gt; amat jelas terungkap dalam rangkaian teks-teks berikut ini. Menurut Why 4:2, dalam penglihatan Yohanes melihat "sebuah takhta berdiri di surga, dan di takhta itu duduk Seorang". Selanjutnya "di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab, yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai" (5:2). Kemudian pada Why 5:7 dikatakan, "Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu". Dialah "singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya" (5:5). Rangkaian ayat-ayat ini amat jelas menunjukkan bahwa Allah yang Mahakuasa (=duduk di atas takhta) mempunyai rencana penyelamatan (=gulungan kitab). Rencana penyelamatan ini akan dinyatakan, dilaksanakan dan diselesaikan oleh Yesus, Sang Anak Domba (=Mesias, singa dari suku Yehuda, keturunan Daud).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;10.2. Namun keyakinan ini tampaknya tidak sejalan dengan kenyataan yang dihadapi oleh Gereja. Gereja Kristus yang memandang diri sebagai Israel baru, justru dimusuhi oleh agama Yahudi. Sementara itu malapetaka yang menimpa Yerusalem pada tahun 70 M juga masih terasa menggoncangkan. Dari sudut pandangan lain, Gereja harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan politik totaliter dan menderita di bawah pemerintahan itu (Why 12-20). Yang dimaksudkan dengan kekuatan politik totaliter adalah kekaisaran Romawi. Kendati keadaan seperti ini, ditunjukkan dengan jelas bahwa sejarah berada di bawah kuasa Allah&lt;i style=""&gt;. &lt;/i&gt;Ini tampak misalnya dalam munculnya kuda dengan berbagai macam warna dalam Why 6. Yang muncul pertama adalah kuda putih (ay 2). Mengenai kuda putih ini dikatakan, "… ada seekor kuda putih, dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan". Kuda putih ini amat berbeda dibandingkan dengan kuda-kuda lain, kuda merah (ay 4), kuda hitam (ay 5), kuda hijau kuning (ay 8) yang dihubungkan dengan kekuatan jahat yang mengambil damai sejahtera (ay 4),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyebarkan ketidakadilan (ay 6) dan mendatangkan maut (ay 8). Apalagi kalau dibaca bersama Why 19:11, lalu kelihatan bahwa penunggang kuda putih itu bernama "Yang Setia dan Yang Benar". Dengan kata lain, kuda-kuda yang lain boleh tampil baru sesudah kuda putih tampil dengan membawa kepastian kemenangan. Selain itu perlu diperhatikan pula bahwa kuda-kuda itu baru dapat tampil sesudah diberi kesempatan "mari" (ay 2, 3, 5, 7).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;10.3. &lt;i style=""&gt;Pelaksanaan rencana penyelamatan Allah&lt;/i&gt; tampak jelas dalam “rangkaian tujuh” yang terdiri dari tujuh meterai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Why 6:1-17; 8:1-5), tujuh sangkakala yang ditiup setelah meterai ketujuh dibuka (Why 8:1-2; 8:6-9:21) dan tujuh cawan murka Allah (Why 15:5-8). Pada waktu cawan ketujuh ditumpahkan (Why 16:17), terlaksanalah karya penyelamatan Allah itu : Bebel, lambang kuasa jahat jatuh (Why 17:1-20:3).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;10.4. Akhirnya jelas pula dinyatakan bahwa &lt;i style=""&gt;sejarah dunia ini akan disempurnakan dan dipenuhi oleh Allah.&lt;/i&gt; Kebahagiaan dan damai sejahtera abadi bukanlah hasil usaha manusia saja, melainkan pertama-tama adalah anugerah Allah. Akhir Kitab Wahyu mengatakan, "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" (Why 21:5). Di tempat lain dikatakan, "Lalu di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari surga, dari Allah" (Why 21:10). Kedua teks ini dengan jelas menyatakan bahwa pelaku utama penyempurnaan sejarah ini adalah Allah sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;C. MENAFSIRKAN WHY&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;12:1-18&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;11. Why 12:1-18 dipilih untuk ditafsirkan secara lebih teliti dengan beberapa alasan. Pertama, karena letaknya yang sentral dalam keseluruhan Kitab Wahyu [14]. Kedua, sentralitas perikope ini bukan hanya dalam arti literer, tetapi juga liturgis [15] dan teologis. Dengan menafsirkan perikope ini, gagasan teologis yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dikembangkan dalam makalah ini memperoleh landasan yang semakin kuat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoHeading7" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoHeading7" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;11. 1.Teks&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="line-height: 150%;"&gt;1.Maka tampaklah suatu tanda besar di langit : Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. 2. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. 3. Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah-padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. 4. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. 5. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. 6. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="line-height: 150%;"&gt;7.Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, 8 tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. 9 Dan naga besar itu dilemparkan ke bawah, si ular tua, yang disebut Iblis dan Satan, yang menyesatkan seluruh dunia; ia dilemparkan di atas bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="line-height: 150%;"&gt;10. Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata:“Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Kristus-Nya, karena telah dilemparkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. 11 Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut. 12 Karena itu bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut! Karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="line-height: 150%;"&gt;13. Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu. 14 Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia diperlihara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa. 15 Lalu ular itu, menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu. 16 Tetapi bumi datang menolong perempuan itu. Ia membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga dari mulutnya. 17 Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksiah Yesus. 18 Dan ia tinggal berdiri di pantai laut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoHeading7" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;11.2. Konteks literer&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Why 12:1-18 dalam struktur Kitab Wahyu terdapat pada bagian yang menggambarkan pelaksanaan sejarah penyelamatan yang dilambangkan dengan ditiupnya sangkakala. “Tidak akan ada penundaan lagi! Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah, seperti yang telah Ia beritakan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu para nabi” (Why 10:7). Peniupan sangkakali ketujuh (Why 11:15) disusul oleh nyanyian pujian yang mengungkapkan kepastian kemenangan (Why 11:15-19) [16]. Kerajaan Allah menjadi kenyataan, tata keselamatan yang baru tiba (Why 12:1-14:18). Kemenangan ini selanjutnya dibeberkan dengan hancurnya musuh, ketika muncul tanda di langit berupa tujuh malaikat dengan tujuh malapetaka yang akan segera dituangkan (Why 15-19). Kitab Wahyu ditutup dengan adegan “Dia yang duduk di atas takhta” (Why 20:11) yang seolah-olah mengulangi adegan awal yang sama (Why 4:2). Keduanya membentuk bingkai awal dan akhir. Yang menjadi permenungan adalah : manakah tempat Gereja dalam sejarah ini?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jawaban atas pertanyaan ini terungkap dalam dua tanda yang muncul pada Why 12:1-18.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoHeading7" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoHeading7" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;11.3. Latar belakang budaya [17]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Ternyata ada kisah yang amat mirip dengan kisah yang terdapat dalam Why 12:1-18, yaitu legenda mengenai kelahiran dewa Apollo. Legenda ini berkaitan dengan pulau bernama Delos, yang terletak tidak jauh dari pulau Patmos, tempat Yohanes tinggal. Delos adalah pulau suci&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagi orang Yunani, karena menurut legenda yang tentunya dikenal oleh para pembaca tulisan Yohanes ini, di pulau itulah Apollo dilahirkan. Legenda ini mulai dengan hamilnya Leto, ibu Apollo, oleh Zeus. Naga Python berusaha membunuh anak yang dikandung oleh Leto, karena kelak anak itu akan menggeser kedudukan naga di Delfi, pusat keagamaan Yunani. Zeus memerintahkan dewa angin dan dewa laut yang bernama Poseidon untuk membantu Leto. Karena itu Leto dibawa ke pulau Delos untuk menyelamatkan diri dari naga Python. Akhirnya Leto melahirkan dengan selamat. Apollo lalu pergi ke Delfi dan membunuh naga itu. Kelahiran Apollo dan terbunuhnya naga mengawali suatu jaman keemasan, jaman damai, aman dan sejahtera. Tidak mustahil bahwa kisah yang terdapat dalam Why 12 ini mempunyai latar belakang kisah populer yang amat terkenal itu. Legenda ini, seperti halnya mitos-mitos yang lain, merupakan penafsiran atas konflik kosmis antara kebaikan dan kejahatan. Kesimpulan kisah selalu sama, yaitu pada akhirnya kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan. Para penguasa Roma menggunakan legenda ini untuk kepentingan politis. Kaisar Agustus menyatakan bahwa masa pemerintahannya adalah jaman keemasan itu, dan bahwa dirinya adalah titisan Apollo. Kaisar Nero membuat patung dirinya dan menamakannya patung dewa Apollo. Lambang-lambang legenda Apollo menghiasi mata uang Romawi yang sekaligus bergambar kaisar. Jadi warga Romawi sungguh amat mengenal legenda ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;11.4. Susunan teks&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Why 12:1-18 tersusun dengan cukup jelas. Why 12:7-12 adalah sisipan yang ditempatkan di antara dua perikope yang berbicara mengenai dua tanda yaitu perempuan dan naga (ay 1-6. 13-18). Dengan demikian perikope ini terdiri dari dua bagian : perempuan dan naga, ay 1-6.13-18; dan sisipan yang menceritakan pertempuran di sorga antara Mikhael dengan naga (ay 7-12).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;11.5. Penafsiran&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;11.5.1. Perempuan dan naga (Why 12:1-6.13-18)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Perikope ini mulai dengan suatu pernyataan meriah, “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit…”. Dalam Injil Yohanes, “tanda” berarti karya penyelamatan Allah. Sesudah Yesus melakukan karya agung mengubah air menjadi anggur, dikatakan, “Hal itu dibuat Yesus di Kana … sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya” (Yoh 2:11; bdk. 4:54). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Seperti halnya terbukanya Bait Allah dan tabut perjanjian yang kelihatan di dalamnya (Why 11:19) berhubungan dengan peniupan sangkakala ketujuh (Why 11:15), demikian juga tampaknya tanda besar ini. Tiupan sangkakala tidak hanya berarti ancaman. Mengacu pada Yos 6:1-16, tiupan sangkakala pada hari ketujuh berarti tanda awal kemenangan definitif. Tembok kota Yerikho runtuh, “sebab Tuhan telah menyerahkan kota itu kepada kamu” (ay 16). Dengan demikian tampaknya tanda-tanda ini pun memuat pesan yang menyatakan bahwa karya penyelamatan Allah mencapai tahap definitif.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Ada tiga tanda di langit yang disebut dalam Kitab Wahyu, yaitu perempuan (12:1), naga (12:3) dan tujuh malaekat dengan tujuh malapetaka terakhir (15:1). Ketiga tanda ini tampaknya mempunyai kaitan dengan keluaran dari Mesir. Perlindungan ilahi yang diungkapkan dalam berbagai lambang terhadap perempuan, mengingatkan orang akan jaminan dan perlindungan yang diberikan kepada umat pada waktu keluaran dari Mesir dan selama mereka tinggal di padang gurun. Sementara itu, naga dalam Kitab Suci dipakai untuk melambangkan musuh umat Allah, yang pada waktu keluaran adalah Firaun (Yes 51:9; bdk Yeh 29:3; 32:2). Selanjutnya malaikat dengan tujuh malapetaka mengawali Why 15 yang merupakan himne kemenangan. Himne ini mengingatkan orang akan nyanyian Musa yang dikidungkan sesudah penyeberangan Laut Teberau (Kel 15). Kaitan tanda-tanda ini dengan keluaran dari Mesir, menegaskan lagi ciri definitif karya penyelamatan yang diwartakan dalam perikope ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;i style=""&gt;Tanda pertama yang besar : perempuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Ada beberapa kemungkinan tafsiran mengenai tanda pertama, yang disebut tanda besar. Ada penafsir yang dengan tegas mengatakan bahwa perempuan itu adalah Maria [18]. Sementara itu penafsir lain sebaliknya mengatakan bahwa tafsiran semacam itu tidak ada dasarnya samasekali [19]. Para penafsir modern pada umumnya berpendapat bahwa kaitan tanda perempuan dengan Maria, Ibu Yesus, adalah sekunder. Arti primer tanda perempuan adalah Gereja, dengan berbagai variasinya [20]. Tanpa maksud mengesampingkan arti sekunder, yang akan diperhatikan adalah arti primer dari tanda perempuan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Kitab Wahyu memuat tidak kurang 400 alusi pada Perjanjian Lama. Dari antaranya ada teks-teks penting berhubungan dengan tanda perempuan. Menurut Yes 7:14 – seperti dalam Why 12 – diberikan tanda perempuan yang mengandung dan akan melahirkan Mesias. Yang istimewa dalam Why 12:1 adalah bahwa tanda itu ada di langit. Dengan cara ini rupanya penulis ingin berbicara mengenai pemulihan Kerajaan Allah secara sempurna dan definitif – seperti halnya dalam Why 11:19 ia berbicara mengenai pemulihan perjanjian secara sempurna dan definitif. Selain itu, Yes 60:20-21 memberikan gambaran mengenai umat Allah ideal, yang hidup pada jaman eskatologis. Tuhan sendiri yang akan menjadi penerang bagi umat itu. Dan bagi mereka ini “akan ada matahari yang tidak pernah terbenam dan bulan yang tidak surut”. Dengan latar belakang ini, perempuan dalam Why 12:1 adalah personifikasi umat Allah, yang dimuliakan dan disinari terang ilahi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Masih ada dua teks dari Kitab Nabi Yesaya yang tampaknya berkaitan dengan Why 12:1. Keduanya menyebut perkandungan dan kelahiran metaforis oleh umat Allah. Yes 26:17-18 mengatakan, “Seperti perempuan yang mengandung yang sudah dekat waktunya untuk melahirkan, menggeliat sakit, mengerang karena sakit beranak, demikianlah tadinya keadaan kami di hadapan-Mu, ya Tuhan : Kami mengandung, kami menggeliat sakit, tetapi seakan-akan kami melahirkan angin : kami tidak dapat mengadakan keselamatan di bumi…”. Sedang Yes 66:7-8 mengatakan, “Sebelum menggeliat sakit, ia sudah bersalin, sebelum mengalami sakit beranak, ia sudah melahirkan anak laki-laki… Masakah suatu negeri diperanakkan dalam satu hari, atau suatu bangsa dilahirkan dalam satu kali?”. Apa maksud Yohanes menggabungkan dua teks ini dalam Why 12 ? Tampaknya yang ingin disampaikan adalah pesan ini : Israel sadar akan panggilannya sebagai umat untuk melahirkan Mesias, yang akan memberikan keselamatan kepada dunia. Namun untuk mengerti maksud Yohanes yang lebih penuh mengenai kelahiran Mesias, perlu diperhatikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;apa yang ditulis dalam Yoh 16:19-22. Dalam perikope ini Yesus berbicara mengenai kesusahan sengsara-Nya dan kegembiraan kebangkitan-Nya. Untuk menjelaskan hal ini, Ia menggunakan gambaran perempuan yang melahirkan : ”Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahikran, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia” (Yoh 16:21).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dengan latar belakang Yes 26:17-18 dan 66:7, Yohanes ingin mengatakan bahwa kesusahan yang dialami oleh para murid dalam sengsara Tuhan, harus dialami sebagai keikutsertaan dalam kesusahan mesianis, demi datangnya keselamatan. Murid-murid ini adalah sisa-sisa Israel, yang sejarahnya dikisahkan dalam Why 4-11. Dari kawanan kecil murid yang setia, yang dipersonifikasikan dalam diri perempuan, akan lahir umat baru.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Dengan demikian tampak bahwa tanda perempuan dalam Why 12:1 adalah lambang yang kompleks. Dia dapat berarti umat Israel, dan dari “sisa” Israel akan lahir Kristus. Dia juga bisa berarti Gereja, ibu semua orang yang percaya. Perempuan juga bisa berarti Yerusalem Surgawi yang dikisahkan dalam Why 21. Dengan demikian, yang dilambangkan bukan hanya umat Allah yang berada dalam sejarah, melainkan juga yang mempralambangkan Yerusalem Surgawi. Segi ilahi umat Allah inilah yang dinyatakan dengan lambang-lambang lainnya, yaitu matahari, bulan dan mahkota duabelas bintang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Jadi siapakah perempuan itu ? Kiranya yang dimaksudkan adalah umat Allah, dipandang dari ciri adikodratinya : umat yang dicintai oleh Allah, subur, dipenuhi dengan anugerah-anugerah yang paling baik, hidup abadinya terjamin. Jemaat sekarang membaca pengalaman hidupnya yang nyata dengan cermin ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Kesimpulan di atas masih dapat didukung oleh lambang-lambang yang menjadi dandanan perempuan itu. Lambang-lambang itu dapat ditafsirkan dengan berbagai macam cara. Matahari, bulan dan bintang dalam mitologi kuno adalah benda-benda langit dan berarti berciri ilahi. Dalam garis pemikiran ini, perempuan itu mempunyai ciri ilahi. Penafsiran lain juga mungkin. Dalam Kitab Suci, matahari adalah ciptaan Allah yang istimewa. Dengan matahari itu Allah mendandani perempuan. Artinya, perempuan itu dikasihi-Nya, dipenuhi dengan anugerah-anugerah yang paling baik. Dengan demikian perempuan dapat melaksanakan tuntutan perjanjian dengan sebaik-baiknya. Sementara itu bulan yang menurut keyakinan Perjanjian Lama berperan sebagai pengatur waktu, berada di bawah kaki perempuan. Mungkin dengan itu mau dikatakan bahwa perumpuan itu sepenuhnya menguasai waktu. Ia bukan realitas yang hanya ditentukan oleh waktu, tetapi sekaligus mengatasinya. Kalau benar demikian, ciri ilahi umat Allah menjadi semakin jelas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Selain itu, perempuan itu bermahkota dua belas bintang. Mahkota adalah lambang kemenangan akhir. Angka duabelas berkaitan dengan dua belas suku Israel dan dua belas rasul yang melambangkan umat Allah, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Dua belas bintang dengan demikian adalah lambang seluruh umat Allah. Sementara itu angka duabelas hanya dipakai untuk tanda perempuan. Angka ini akan dipakai lagi dalam Why 21-22. Dengan demikian angka duabelas amat dekat dengan realitas ciptaan baru dan ilahi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Pada Why 12:2 panggung rasanya tiba-tiba berubah, meskipun tokoh utama tetap perempuan itu. Ada satu paradoks yang menonjol. Perempuan yang sudah dimahkotai dengan dua belas bintang itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sedang mengandung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan dalam keluhan dan penderita-annya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. Dengan memperhitungkan seluruh suasana perikope ini, yang dimaksudkan kiranya adalah paradoks salib dan kebangkitan. Dengan paradoks ini penulis mau menyatakan bahwa Gereja ikut ambil bagian dalam kemenangan definitif Kristus terhadap kejahatan. Seperti halnya Gereja Smirna (Why 2:10), mahkota kemenangan diberikan kepada Gereja yang berhasil melawan Setan di dunia. Dengan mahkota dua belas bintang, perempuan adalah lambang Gereja yang tidak bisa dihancurkan, yang abadi, kendati dalam sejarah ia berada dalam kesulitan. Inilah pesan utama yang disampaikan oleh penulis kepada pembaca : meneguhkan harapan dan mendorong&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka untuk tetap teguh. Kepada Gereka yang mengalami penganiayaan, Yohanes menegaskan keyakinan iman yang mendasar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gereja tidak akan pernah dapat dihancurkan oleh siapa pun. Dengan demikian Why 12:1-2 adalah pengantar yang amat penting untuk masuk ke bagian kedua (Why 12-22) yaitu membantu para pembaca menjawab masalah eksistensial mereka, mengapa mereka mengalami penganiayaan ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;i style=""&gt;Tanda kedua : Naga &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Untuk lebih memahami kelahiran dan penderitaan yang dialami oleh perempuan itu, harus dipertimbangkan tanda kedua yang muncul dan berlawanan dengan tanda yang pertama, yaitu naga (ay 3-4). Naga adalah ular besar, tetapi bukan tanda besar. Naga ini berwarna merah padam, warna api dan darah yang melambangkan kuasa kematian yang dahsyat. Ia adalah raja (=bermahkota tujuh) yang cerdik (=bermahkota tujuh) dan berkuasa (=bertanduk sepuluh). Naga adalah musuh yang mengerikan. Siapakah dia sebenarnya ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Identitas baru diberikan pada ay 9, ketika ia sudah dikalahkan dan dilemparkan ke bumi. Dia adalah “si ular tua, yang disebut Iblis atau Setan, yang menyesatkan seluruh dunia”. Sebutan-sebutan ini merangkum semua lambang-lambang kekuatan jahat, yang tujuannya adalah menyesatkan. Sejak dosa manusia pertama, kekuatan ini tidak perenah berhenti menyesatkan orang; artinya, membelokkan orang dari jalan Tuhan, jalan kehidupan dan kebahagiaan. Dia adalah “ular tua” yang menjanjikan kehidupan dan pengetahuan yang hanya bisa diberikan oleh Allah sendiri. Dengan kata lain, dia menjerumuskan orang kepada penyembahan berhala. Dia adalah Iblis yang memecah-belah. Dengan demikian pekerjaannya bertolak belakang dengan Tuhan Perjanjian, yang melalui penjelmaan, wafat dan kebangkitan-Nya, menyempurnakan perjanjian itu. Dia menyesatkan seluruh dunia; artinya, jalan-jalan Tuhan ia kacaukan, sehingga tujuan hidup manusia tidak jelas lagi dan dengan demikian tidak bisa tercapai juga. Dia adalah Setan, yang disebut si pendakwa. Dalam Kitab Ayub, dia tampil pada sidang surgawi. Dia berjalan-jalan di bumi untuk mengumpulkan bukti-bukti dakwaan terhadap manusia. Dia berperang melawan Mikhael, yang berarti “siapa seperti Allah?”. Dengan cara ini ditunjukkan niat Iblis untuk menjadi seperti Allah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Sampai titik tertentu, naga masih diam di atas. Tetapi sejak kelahiran anak dari perempuan, Setan tidak mempunya tempat lagi di sana, ”… telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam” (Why 12:10). Inilah yang dalam Injil Yohanes dikatakan dengan cara lain, “Sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar” (Yoh 12:31). Dengan cara ini mau dikatakan bahwa dunia telah dihakimi. Yesus menjadi pembela kita. Ia menanggung dosa-dosa dunia dan menggagalkan semua usaha Setan yang mau mencelakakan umat manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Penulis Kitab Wahyu melukiskan keyakinan iman ini dengan cara yang amat hidup : naga berdiri di hadapan perempuan agar dapat menelan anak yang akan lahir. Tetapi anak itu dirampas dandibawa lari kepada Allah. Inilah kekalahan Setan, berkat wafat dan kebangkitan Yesus, yang dinyatakan pada Why 12:10-11 :”Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita”. Inilah saat kenenangan Gereja, “.. dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba” (ay 11). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Dengan cara ini Yohanes ingin menyampaikan pesan khusus kepada Gereja (-gereja di Asia) yang mengalami penganiayaan : Setan telah dikalahkan. Tidak ada lagi kekuatan jahat “di atas”. Kalau masih ada, perang dengan Setan hanya terjadi di bawah, di dunia. Itulah yang dialami oleh “keturunan lain dari perempuan yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus” (Why 12:17). Yang bisa dikerjakan oleh Setan adalah melampiaskan kemarahan kepada manusia. Ini terwujud dalam penganiayaan yang dikerjakan oleh pemerintahan Romawi. Tetapi ia tidak berdaya terhadap Gereja (bdk Yoh 14:30; 16:33). Itulah sebabnya naga itu “tinggal di pantai laut” (Why 12:18). Gereja Asia yang dituju oleh Kitab Wahyu dengan mudah menangkap maksud ini : dari laut, dari barat datang invasi kekaisaran Romawi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;i style=""&gt;Naga hendak menelan anak yang akan dilahirkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Dengan majunya kisah, perlambangan menjadi lebih rumit. Pertanyaannya menjadi, “Apa arti kelahiran itu? Siapakah yang akan dilahirkan, sehingga naga mengancam untuk membunuhnya ?” Penulis memberikan jawaban yang jelas, “Maka ia melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi” (ay 5b). Kalimat ini mempunyai latar belakang Mzm 2:9 dan Yes 66:7. Kedua teks itu dalam Perjanjian Baru selalu dihubungkan dengan Kristus, demikian juga dalam Kitab Wahyu. Yang akan menggembalakan segala bangsa dengan tongkat besi adalah Kristus. Yang dimaksudkan ialah Kristus pada jaman akhir : kalau karya penyelamatan sampai pada penyelesaiannya, Kristus akan menampakkan kemenangan-Nya atas kejahatan (bdk Why 19:11-16). Dan Kristus itu lahir dari Gereja. Jemaat sadar bahwa dirinya adalah perempuan yang ditampilkan dalam tanda itu. Dirinya-lah yang dengan segala macam usaha, hari demi hari, harus menyatakan Kristusnya. Kristus itu akan menjadi nyata dalam segala hal baik, yang berhasil dilakukan oleh Gereja, termasuk kebaikan yang mungkin tidak dilihat orang, yang tidak diterima atau dihargai. Semua yang “dilahirkan” oleh Gereja itu akan sangat berperan dalam membangun tubuh Kristus yang sempurna (bdk Ef 4:13).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Rasul Paulus sudah merasakan bahwa pengalaman pahit dan gelap dalam karya kerasulan dapat menjadi sarana untuk memahat gambar Kristus dalam diri orang lain. Ia menulis, “Hai anak-anakku, karena kamu akan menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata dalam kamu” (Gal 4:19).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Jemaat sangat bergembira dapat melihat perspektif yang memberikan makna kepada segala segi kehidupannya. Namun jemaat juga tidak dapat melupakan keadaan hidupnya yang nyata. Ia bertanya, apakah usaha-usaha yang dapat dicoba di tengah-tengah keadaan sulit yang dihadapinya ? Keadaan yang tampaknya tidak dapat ditembus? Apakah arti kebaikan di tengah-tengah kejahatan yang terorganisasi dengan rapi ? Apakah jemaat tidak sedang bermimpi kalau dikatakan bahwa ia akan berhasil menampakkan wajah Kristus dalam usaha sehari-hari mereka ? Apakah realistis mengatakan bahwa akhirnya Kristus akan mengalahkan kekuatan-kekuatan jahat secara definitif kalau kejahatan itu sekarang tampak begitu perkasa ?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Penulis memberikan jawaban yang membesarkan hati, sekaligus menantang : “… tiba-tiba anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia diperlihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya” (ay 5b-6).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Hal-hal baik yang berhasil dilakukan oleh Gereja, betapa kecil dan kelihatannya tidak berarti di hadapan kekuatan jahat yang raksasa, sungguh berperan dalam mengukir wajah Kristus, sampai menjadi nyata dalam kehidupan. Tidak ada pekerjaan baik yang sia-sia. Dengan lambang yang sangat hidup dinyatakan bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang dilahirkan oleh Gereja dalam penderitaan akan diambil dan dibawa ke hadapan Allah dan dalam perlindungan kuasa-Nya. Tidak ada kekuatan manusiawi dan kekuatan jahat mana pun yang dapat merampasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Perempuan itu sendiri lagi ke padang gurun (ay 6). Dalam Perjanjian Lama padang gurun adalah tempat percobaan, pemurnian, pematangan hubungan antara Allah dengan umat. Padang gurun juga tempat mengalami “kasih masa muda”(=keluaran dari Mesir), pengalaman kasih yang pertama. Gereja perlu merasa bahwa padang gurun adalah tempat tinggalnya yang biasa selama dalam peziarahan masa ini. Ia ditantang untuk tidak menyimpang dari jalan Allah kendati merasa lelah dalam perjalanan, tetap berharap dan percaya, menunjukkan jati diri dalam keadaan tertekan. Ini semua pertama-tama adalah tantangan untuk menunjukkan kasih yang radikal dan penuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Demikian bolehlah disimpulkan, bahwa Allah telah melengkapi Gereja dengan kasih-Nya : memberikan yang paling baik kepadanya, memberikan jaminan kemenangan akhir, membiarkan Gereja mengalami rupa Kristus yang menjadi semakin nyata dalam sejarah; dan selama masa sulit yang dilalui Gereja, Tuhan selalu menyertainya. Dengan demikian jemaat tidak dapat lain kecuali bersyukur dan menyatakan kesediaannya untuk menerima dan menjalan tugas konkret yang tidak mudah. Ia tidak boleh bermimpi mengenai yang indah, tetapi juga tidak terperosok ke dalam pesimisme suram.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;i style=""&gt;Naga memburu perempuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Karena dikalahkan (ay 7-9), naga memburu perempuan. Meskipun Mesias menang atas Iblis, Iblis terus memburu perempuan yang lemah dan tidak berdaya itu. Gambar perlambangan ini tampaknya berlatar belakang keluaran dari Mesir dan tinggalnya umat Allah di padang gurun. Sebagaimana halnya dengan umat Allah, perempuan itu pun sedang berada dalam kesulitan besar dan diancam oleh kekuatan yang dahsyat. Tuhan tidak tinggal diam. Ia datang, membantu, melindungi, memberi makan (bdk Kel 19:4) serta membatasi masa penindasan selama tiga setengah masa atau 1260 hari (ay 14). Naga tetap menimbulkan kekacauan dengan menyemburkan air. Ini adalah banjir bandang yang mau menenggelamkan perempuan (bdk Mzm 32:6; 124:4-5; Yes 43:2). Untunglah bumi datang menolong perempuan itu dengan menelan sungai yang disemburkan naga. Dengan demikian bumi dimengerti sebagai ciptaan Allah yang baik yang berpihak pada umat Allah (bdk. Bil 16:30; 26:10; Ul 11:6).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Naga mencoba berbagai macam cara tetapi ternyata gagal (ay 17). Karena itu serangan dialihkan ke orang beriman yang lain (=keturunannya yang lain). Mereka ini adalah orang-orang yang setia pada iman dan menuruti hukum Allah serta bersaksi tentang Kristus (14:12). Perempuan itu memang berhasil dilindungi Allah, keluar dari jangkauan naga. Tetapi anak-anaknya tetap mudah diserang (bdk. Why 13) &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;11.5.2. Naga dikalahkan (Why 12:7-9)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Kisah perempuan dan naga diselingi oleh dua sisipan, yaitu kisah peperangan antara Mikael dan naga (Why 12:7-9) serta nyanyian kemenangan (ay 10-12). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Mikael adalah kepala malaikat Allah. Ia mempunyai tugas melindungi umat pilihan (bdk Dan 10:13.21; 12:1). Menurut kepercayaan Yahudi, Mikael adalah sosok paling berkuasa setelah Allah. Ia sering digambarkan sebagai kekuatan adikodrati yang membela kebaikan melawan setan (bdk Yud 9; Dan 10:13.21).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Peperangan antara Mikhael dengan naga berakhir dengan kemenangan Mikael dan para malaikatnya. Naga dan para malaikatnya dilemparkan ke bawah (bdk Yoh 12:31; Luk 10:18) sehingga mereka “tidak mendapat tempat lagi di surga” (ay 8; bdk Dan 2:3-5). Mengapa semula Iblis mendapat tempat di surga ? Karena Iblis mempunyai peranan sebagai “pendakwa” manusia di hadapan Allah (bdk Ayb 1:6; 2:2). Kekalahannya menyebabkan ia kehilangan peran ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;11.5.3. Nyanyian kemenangan surgawi (Why 12:10-12).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Bagian ini menggambarkan jatuhnya naga.Meskipun pada bagian sebelumnya dikatakan bahwa Mikael yang mengusir setan dari surga, nyatanya kidung ini adalah pujian kemenangan bagi Kristus. Kemenangan atas setan diperoleh oleh Kristus dengan salib-Nya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Segala sesuatu yang dilihat oleh Yohanes di surga sejajar dengan kenyataan di dunia. Jika di surga kekuatan ilahi menang atas setan, di dunia Kristus menang atas setan melalui salib. Yohanes menggunakan pola kuno mengenai hubungan antara peristwia di surga dan di dunia (bdk Yos 6:1-27). Peristiwa yang di surga merupakan pantulan dari peristiwa di dunia. Wafat Kristus menjadi kemuliaan-Nya, sekaligus menjadi saat jatuhnya Iblis. Dengan wafat di salib Yesus mengalahkan setan dan diangkat kembali kepada Allah. Gambaran seperti ini menunjukkan cara pandang apokaliptik, sebagaimana terdapat dalam Luk 10:18 : setan jatuh karena kematian Yesus. Mikael adalah petugas surgawi yang dapat menyingkirkan setan karena kemenangan sesungguhnya telah terjadi di salib.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Di dunia perjuangan melawan Iblis juga terjadi dalam diri para martir ( ay 11) yang menjadi obyek pendakwaannya, tetapi kini telah mengalahkan setan. Mereka mengalahkan setan oleh darah Anak Domba, yaitu dengan menyerahkan nyawa mereka. Mereka menghadirkan Kristus melalui kesaksian iman mereka. Dengan demikian mereka berpartisipasi dengan karya Anak Domba yang telah mengalahkan kuasa kejahatan dengan karya penyelamatan-Nya. Dengan demikian Yohanes mau mengatakan bahwa peperangan melawan Iblis hanya dapat dimenangkan melalui salib. Inilah satu-satunya model kemenangan kristiani. Kemenangan tidak pernah berarti pembalasan atas musuh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Jemaat Kitab Wahyu diajak untuk berpartisipasi, sebagaimana halnya para martir, dengan “tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut” (ay 11). Dengan menyatakan bahwa mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai mati, mereka menunjukkan telah mengasihi Kristus lebih daripada hidup mereka sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Kemenangan kuasa kebaikan melawan Iblis membuat surga bersukacita. Tetapi orang-orang kristiani di dunia masih harus menderita sebab Iblis berusaha untuk menimbulkan kerusakan sebesar mungkin, karena waktunya tinggal sedikit lagi. Mesias memang sudah menang atas kuasa Iblis, tetapi masih ada waktu singkat sampai pengadilan terakhir. Ini menjelaskan mengapa sesudah Kristus menang atas maut, orang kristiani tidak lepas dari penderitaan. Kendati demikian kekuatan jahat itu dibatasi baik tempatnya (hanya di bumi, ay&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;9) maupun waktunya (singkat, ay 12).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;BAGIAN III : GEREJA SEBAGAI KOMUNITAS ORANG-ORANG YANG BERHARAP.&lt;/p&gt;  &lt;h3&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;12. Atas dasar uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Kitab Wahyu dapat diajukan sebagai model perenungan komunitas kristiani, khususnya mengenai harapan. Kitab ini muncul ketika Gereja berhadapan dengan dunia dan pengalaman hidup yang suram, tampaknya tanpa masa depan. Tampaknya kekuatan jahat jauh lebih perkasa dibandingkan dengan kekuatan kebenaran dan kebaikan. Dalam keadaan seperti ini Gereja dipaksa untuk mencari dan menemukan makna pengalaman itu dan menentukan sikap. Mereka yakin bahwa Allah yang menunjukkan kesetiaan di masa lalu, akan menyatakan kesetiaan yang sama sepanjang sejarah, sampai akhir. Kesetiaan Allah itulah yang menjadi jaminan harapan akan akhir yang gilang-gemilang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;13. Gereja hidup dalam tegangan antara janji dan pemenuhan janji. Itulah yang jelas terungkap dalam seluruh Kitab Suci : Kitab Suci dibuka dengan kisah penciptaan dan dosa manusia pertama (Kej 1-3) serta ditutup dengan kepastian harapan akan masa depan yang gilang-gemilang, “langit baru bumi baru”,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ciptaan yang dipulihkan kembali pada kepenuhan sejarah (Why 21:1-4).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kisah penciptaan menyatakan bahwa segala sesuatu adalah baik (Kej 1:4.10.12.17.21.25) bahkan amat baik adanya (Kej 1:31). Sementara itu visi mengenai penciptaan atau dunia baru dalam Kitab Wahyu meneguhkan harapan bahwa akhirnya kejahatan akan dikalahkan dan “keadilan dan samai sejahtera akan bercium-ciuman” (Mzm 85:11; bdk Yes 11:4-6; 25:1-8). Gereja hidup di antara dua masa yang membentuk sejarah itu. Dalam sejarah itu, bersama dengan semua orang yang berkehendak baik, Gereja dipanggil untuk ikut membangun sejarah menurut rencana Allah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gereja hidup dalam tegangan antara harapan dan realisme. Dalam keadaan seperti itu Gereja perlu terus-menerus membaca tanda-tanda jaman, menganalisa kekuatan-kekuatan merusak yang mengasingkan dunia dan umat manusia dari kekuatan kasih Allah sambil menawarkan pemikiran, tindakan dan cara hidup alternatif sebagai representasi harapan [21]. Harapan ini memberikan motivasi yang kuat dan landasan yang kokoh untuk berjuang dengan penuh semangat mengarungi kehidupan masa kini dan terlibat dalam perjuangan menegakkan Kerajaan Allah. Harapan bukanlah sekedar optimisme yang dilandaskan pada ideologi yang seringkali mengklaim mampu memecahkan segala macam masalah [22]. Harapan dilandaskan pada keyakinan iman yang teguh bahwa “Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6); bahwa Tuhan mengarahkan umat manusia dan seluruh ciptaan menjadi “kerajaan yang berpedoman kebenaran dan kehidupan kerajaan yang memancarkan kesucian dan rahmat, kerajaan yang berlimpahkan keadilan, cinta kasih dan damai” [23]. Harapan ini memberikan kekuatan dan dorongan kepada siapa pun yang berkehendak baik untuk bertindak : membaca tanda-tanda jaman dan melibatkan diri dalam usaha untuk membangun tata kehidupan bersama yang semakin adil dan bersaudara. Ini adalah perutusan bersama yang mengundang semua orang untuk berbicara bersama, berprakarsa dan berimaginasi. Perutusan ini juga menuntut iman yang kokoh dan kasih yang berani. Harapan inilah yang ada di balik nasihat St. Paulus, “ Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan ! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor 15:58).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184666923841973429-3254025688090451365?l=inspirasikas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inspirasikas.blogspot.com/feeds/3254025688090451365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184666923841973429&amp;postID=3254025688090451365' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/3254025688090451365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/3254025688090451365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inspirasikas.blogspot.com/2007/04/webkasdokgagasan2004-kitab-wahyu.html' title='webkasdokgagasan2004 Kitab Wahyu'/><author><name>seger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18019764020165012167</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184666923841973429.post-6495716251219649280</id><published>2007-04-10T21:03:00.000-07:00</published><updated>2007-04-10T21:04:41.152-07:00</updated><title type='text'>webkasdokgagasan2004 Paradigma Baru</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="SV"&gt;MENGEMBANGKAN PARADIGMA BARU PENDIDIKAN RELIGIOSITAS UNTUK TRANSFORMASI PEMBANGUNAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;I.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;MANUSIA : PRIBADI RELASIONAL YANG MULTIDIMENSI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam paparan ini dikembangkan gagasan mengenai manusia sebagai pribadi relasional yang multidimensi dalam pola-pola relasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;antara &lt;b style=""&gt;A. RELIGIOSITAS, B. SEKULARITAS, dan C. MORALITAS &lt;sup&gt;5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify;"&gt;Paparan ini dikembangkan dari pembicaraan yang disampaikan oleh penulis dalam berbagai seminar: Seminar Regional mengenai "Civil Religion di Indonesia", yang diselenggarakan oleh FAKULTAS USHULUDDIN IAIN WALISONGO SEMARANG, &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Semarang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, 27 Juli 2002. Dan kemudian dikembangkan untuk pembicaraan dalam Internasional Seminar on "Globalization, Religion and the Media in the Islamic World" Oktober 9, 2002 di UNIVERSITAS ATMAJAYA YOGYAKARTA; dan dengan judul "Paradigma Baru Pendidikan Religiositas untuk Membangun Moralitas Bangsa" di UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO FAKULTAS AGAMA ISLAM Sabtu, 7 Juni 200, 08.30-12.00; dalam Lokakarya yang diselenggarakan oleh BAPPEDA PEMERINTAH PROPINSI JAWA TENGAH, 7 Juli 2003 di Semarang; dan dalam Workshop yang diselenggarakan oleh Panitia Bersama Pondok Pesantren Daerah Istimewa Yogyakarta dan Badan Litbang Departemen Agama Daerah Istimewa Yogyakarta dengan tema Pondok Pesantren: Tantangan dan Harapan Masyarakat Pulural dan Globlal dalam Rangka Menuju Kehidupan yang Sejahtera, Maju, Rukun dan Damai, 11-14 Agustus 2003, di PONDOK PESANTREN SUNAN PANDANARAN YOGYAKARTA.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;POLA-POLA RELASI&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Manusia berada bersama dengan yang lain (Yang Lain). Dengan demikian manusia menghayati, menemukan dan mengembangkan nilai-nilai hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Relasinya dengan Yang Lain (Yang &lt;i style=""&gt;Transenden&lt;/i&gt;) menciptakan ruang religiositas, ruang pribadi dimana manusia menemukan dasa eksistensial kehidupannya (&lt;i style=""&gt;summum bonum&lt;/i&gt;) pada &lt;b style=""&gt;SANG KHALIK (A)&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Relasinya dengan sesama dan dunia (&lt;i style=""&gt;saeculum&lt;/i&gt;) menciptakan ruang sekularitas, ruang dimana manusia berkesempatan untuk mengolah, menata, mengembangkan dunia dengan segala isinya &lt;b style=""&gt;(MAKHLUK)&lt;/b&gt; melalui pengetahuan dan teknologi, melalui pranata-pranata budaya, sosial, politik, ekonomi dll. dalam tata hidup bermasyarakat &lt;b style=""&gt;(B)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Dan relasinya dengan cita-cita hidup yang semakin bermartabat menciptakan ruang dimana manusia hidup berdasar pada dan dengan demikian mengembangkan nilai-nilai &lt;b style=""&gt;AKHLAK:&lt;/b&gt; moral etis (&lt;i style=""&gt;bonum humanum, bonum publicum&lt;/i&gt;) &lt;b style=""&gt;(C)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1026" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:140.4pt;" allowincell="f" filled="f"&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1027" style="'position:absolute;" allowincell="f" fillcolor="black"&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t202" coordsize="21600,21600" spt="202" path="m,l,21600r21600,l21600,xe"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:path gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1028" type="#_x0000_t202" style="'position:absolute;" allowincell="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:textbox style="'mso-next-textbox:#_x0000_s1028'"&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'font-size:12.0pt;"&gt;A&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1029" type="#_x0000_t202" style="'position:absolute;" allowincell="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'font-size:12.0pt;"&gt;C&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1030" type="#_x0000_t202" style="'position:absolute;" allowincell="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'font-size:12.0pt;"&gt;B&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1031" style="'position:absolute;left:0;" allowincell="f" filled="f"&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1032" style="'position:absolute;" allowincell="f" filled="f"&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1033" type="#_x0000_t202" style="'position:absolute;left:0;" allowincell="f" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'font-size:12.0pt;mso-bidi-font-size:10.0pt'"&gt;MAKHLUK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1034" type="#_x0000_t202" style="'position:absolute;" allowincell="f" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'font-size:12.0pt;mso-bidi-font-size:10.0pt'"&gt;AKHLAK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1035" type="#_x0000_t202" style="'position:absolute;" allowincell="f" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'font-size:12.0pt;mso-bidi-font-size:10.0pt'"&gt;SANG KHALIK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1036" style="'position:absolute;left:0;" from="176.4pt,66.45pt" to="176.4pt,116.85pt" allowincell="f"&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1037" style="'position:absolute;left:0;" from="183.6pt,29.55pt" to="270pt,43.95pt" allowincell="f"&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1038" style="'position:absolute;left:0;" from="75.6pt,21.9pt" to="169.2pt,50.7pt" allowincell="f"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td height="0" width="14"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Woly/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" shapes="_x0000_s1026 _x0000_s1027 _x0000_s1028 _x0000_s1029 _x0000_s1030 _x0000_s1031 _x0000_s1032 _x0000_s1033 _x0000_s1034 _x0000_s1035 _x0000_s1036 _x0000_s1037 _x0000_s1038" height="191" width="475" /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Faktor kekuasaanlah (&lt;i style=""&gt;power&lt;/i&gt;) yang menentukan relasi antar-ruang yang membangun pola-pola relasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Disini orang harus sungguh waspada, karena kekuasaan itu cenderung merusak (&lt;i style=""&gt;Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely!)&lt;/i&gt;. Lebih dari itu kekuasaan (&lt;i style=""&gt;power&lt;/i&gt;) mudah sekali berubah menjadi kekerasan (&lt;i style=""&gt;violence&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Ada tiga bentuk pola relasi antar-ruang sbb.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pencampuradukan (&lt;i style=""&gt;identifikasi&lt;/i&gt;): &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;mencampuradukkan antar-ruang.&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1039" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:162pt;" allowincell="f" fillcolor="black"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td height="13" width="215"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Woly/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_s1039" height="60" width="60" /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Dalam pola relasi campuraduk ini yang lebih berkuasa menguasai yang kurang berkuasa, yang kuat dominan terhadap yang lemah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Yang lemah tergantung (dependent) pada yang kuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pemisahan (&lt;i style=""&gt;separasi&lt;/i&gt;): &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;memisahkan antar-ruang&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1040" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:219.6pt;" allowincell="f" fillcolor="black"&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1041" style="'position:absolute;" allowincell="f" fillcolor="black"&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1042" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" allowincell="f" fillcolor="black"&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1043" type="#_x0000_t202" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:226.8pt;" allowincell="f" filled="f"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'font-size:14.0pt;"&gt;B&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1044" type="#_x0000_t202" style="'position:absolute;" allowincell="f" filled="f"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'font-size:14.0pt;"&gt;C&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1045" type="#_x0000_t202" style="'position:absolute;" allowincell="f" filled="f"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'font-size:14.0pt;"&gt;A&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1046" style="'position:absolute;left:0;" from="198pt,10.2pt" to="198pt,75pt" allowincell="f"&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1047" style="'position:absolute;left:0;" from="198pt,77.3pt" to="262.8pt,120.5pt" allowincell="f"&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1048" style="'position:absolute;left:0;" from="147.6pt,77.3pt" to="198pt,120.5pt" allowincell="f"&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1049" type="#_x0000_t202" style="'position:absolute;" allowincell="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;h2&gt;Sekularisme&lt;/h2&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1051" type="#_x0000_t202" style="'position:absolute;" allowincell="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;h2&gt;Religionisme&lt;/h2&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td height="13" width="120"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Woly/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.gif" shapes="_x0000_s1040 _x0000_s1041 _x0000_s1042 _x0000_s1043 _x0000_s1044 _x0000_s1045 _x0000_s1046 _x0000_s1047 _x0000_s1048 _x0000_s1049 _x0000_s1051" height="190" width="340" /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1050" type="#_x0000_t202" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" allowincell="f" stroked="f"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td height="3" width="225"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="background: white none repeat scroll 0%; vertical-align: top; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" bgcolor="white" height="33" width="129"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]--&gt;&lt;span style="position: absolute; left: 0pt; z-index: 25;"&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;!--[endif]--&gt;     &lt;div shape="_x0000_s1050" style="padding: 3.6pt 7.2pt;" class="shape"&gt;     &lt;h2&gt;Moralisme&lt;/h2&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;!--[if !mso]--&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;   &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !mso &amp; !vml]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Pemisahan antar-ruang menyebabkan masing-masing ruang tak terhubungkan dan terpisah satu sama lain. Satu sama lain&lt;i style=""&gt; in-dependent.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dalam pola demikian dapat terjadi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Religiositas &lt;i style=""&gt;terreduksi&lt;/i&gt; menjadi &lt;i style=""&gt;religion&lt;/i&gt;-&lt;b style=""&gt;isme&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sekularitas &lt;i style=""&gt;terreduksi&lt;/i&gt; menjadi &lt;i style=""&gt;sekular&lt;/i&gt;-&lt;b style=""&gt;isme&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Moralitas &lt;i style=""&gt;terreduksi&lt;/i&gt; menjadi &lt;i style=""&gt;moral&lt;/i&gt;-&lt;b style=""&gt;isme&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 22.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Segala macam -&lt;b style=""&gt;isme&lt;/b&gt; merupakan ideologi yang membelenggu, yang merusak keutuhan pribadi manusia. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Manusia dapat terreduksi menjadi manusia satu dimensi saja, berwawasan sempit, eksklusif, dan sektarian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Pembedaan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;(distinksi dalam korelasi)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;: membedakan antara ruang yang satu dengan yang lain dalam keterhubungan satu sama lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1054" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:176.4pt;" allowincell="f" filled="f"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td height="13" width="234"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Woly/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" shapes="_x0000_s1054" height="60" width="60" /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1052" style="'position:absolute;" allowincell="f"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: -15; left: 0px; margin-left: 196px; margin-top: 13px; width: 59px; height: 60px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Woly/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.gif" shapes="_x0000_s1052" height="60" width="59" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1058" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;flip:y;" from="183.6pt,11.25pt" to="241.2pt,25.65pt" allowincell="f"&gt;  &lt;v:stroke dashstyle="1 1" endcap="round"&gt; &lt;/v:line&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: 33; left: 0px; margin-left: 244px; margin-top: 14px; width: 79px; height: 21px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Woly/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image006.gif" shapes="_x0000_s1058" height="21" width="79" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1057" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;z-index:32;" from="169.2pt,11.25pt" to="198pt,11.25pt" allowincell="f"&gt;  &lt;v:stroke startarrow="block" endarrow="block"&gt; &lt;/v:line&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: 32; left: 0px; margin-left: 224px; margin-top: 9px; width: 42px; height: 12px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Woly/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.gif" shapes="_x0000_s1057" height="12" width="42" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="IT"&gt;A&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;B&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1053" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:162pt;" allowincell="f" filled="f"&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1055" style="'position:absolute;" from="169.2pt,2.35pt" to="176.4pt,23.95pt" allowincell="f"&gt;  &lt;v:stroke startarrow="block" endarrow="block"&gt; &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1056" style="'position:absolute;left:0;" from="183.6pt,2.35pt" to="198pt,23.95pt" allowincell="f"&gt;  &lt;v:stroke startarrow="block" endarrow="block"&gt; &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1059" style="'position:absolute;left:0;" from="183.6pt,17.2pt" to="183.6pt,67.6pt" allowincell="f"&gt;  &lt;v:stroke dashstyle="1 1" endcap="round"&gt; &lt;/v:line&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1060" style="'position:absolute;left:0;" from="126pt,2.35pt" to="183.6pt,9.55pt" allowincell="f"&gt;  &lt;v:stroke dashstyle="1 1" endcap="round"&gt; &lt;/v:line&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: relative; z-index: 28;"&gt;&lt;span style="position: absolute; left: 167px; top: -1px; width: 108px; height: 92px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Woly/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image008.gif" shapes="_x0000_s1053 _x0000_s1055 _x0000_s1056 _x0000_s1059 _x0000_s1060" height="92" width="108" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="IT"&gt;C&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;Dalam pola relasi ini dapat kita temukan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1061" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:190.8pt;" allowincell="f"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: 36; left: 0px; margin-left: 253px; margin-top: 9px; width: 41px; height: 41px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Woly/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image009.gif" shapes="_x0000_s1061" height="41" width="41" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Otonomi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; masing-masing&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Korelasi antar-ruang yang satu dengan yang lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1062" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;z-index:37;" from="277.2pt,1.3pt" to="349.2pt,1.3pt" allowincell="f"&gt;  &lt;v:stroke startarrow="block" endarrow="block"&gt; &lt;/v:line&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: relative; z-index: 37;"&gt;&lt;span style="position: absolute; left: 368px; top: -4px; width: 100px; height: 12px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Woly/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image010.gif" shapes="_x0000_s1062" height="12" width="100" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1063" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:82.8pt;" allowincell="f" fillcolor="black"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: 38; left: 0px; margin-left: 109px; margin-top: 41px; width: 22px; height: 21px;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Woly/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image011.gif" shapes="_x0000_s1063" height="21" width="22" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dengan adanya korelasi tersebut tercipta &lt;b style=""&gt;ruang bersama&lt;/b&gt;, tempat masing-masing ruang terhubungkan satu sama lain, sehingga ada saling keterhubungan &lt;i style=""&gt;(inter-dependent)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Pengembangan pemikiran mengenai masyarakat warga &lt;i style=""&gt;(civil society)&lt;/i&gt; subur dalam pola relasi 3, yaitu pembedaan antara religiositas, sekularitas dan moralitas, yang masing-masing otonom, namun sekaligus korelatif dalam komunikasi dan kerjasama saling melengkapi. Dalam pola relasi ini agama tidak dipahami sebagai suatu bidang tersendiri, tetapi lebih sebagai dimensi yang berdaya untuk melaksanakan pembangunan &lt;i style=""&gt;transormatif&lt;/i&gt; manusia seutuhnya sebagai warga masyarakat dan bangsa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;HUBUNGAN ANTARA GEREJA DAN NEGARA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Banyak masalah sudah muncul dapat dan akan muncul dari relasi agama dan negara sebagai komunitas politik, bahkan masalah-masalah berat yang menyangkut kemanusiaan karena salah urus terhadap kekuasaan. Justru karena itulah, muncul pula suatu kesadaran warga masyarakat untuk membangun ruang bersama tempat setiap warga dapat hidup bersama dalam kemerdekaan dan damai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Mengenai hubungan antara Gereja dan negara Konsili Vatikan II menegaskan: "&lt;i style=""&gt;Terutama dalam masyarakat yang bersifat majemuk, sangat pentinglah bahwa orang-orang mempunyai pandangan yang tepat tentang hubungan antara negara dan Gereja, dan bahwa&lt;b style=""&gt; ada pembedaan&lt;/b&gt; yang jelas antara apa yang dijalankan oleh umat Kristen, enatah sebagai perorangan entah secara kolektif, atas nama mereka sendiri selaku warga negara, di bawah bimbingan suarahati kristiani, dan di pihak lain apa yang mereka jalankan atas nama Gereja bersama para gembala mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Berdasarkan tugas maupun wewenangnya gereja sama sekali &lt;b style=""&gt;tidak dapat dicampuradukkan&lt;/b&gt; dengan negara, dan tidak terika pada sistem politik mana pun juga. Sekaligus gereja itu menjadi tanda dan perlindungan transendensi pribadi manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dibidang masing-masing negara dan gereja bersifat &lt;b style=""&gt;otonom&lt;/b&gt;, tidak saling tergantung. Tetapi keduanya, kendati atas dasar yang berbeda,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melayani panggilan pribadi dan sosial orang-orang yang sama. Pelayanan itu akan semakin efektif dijalankan oleh keduanya demi kesejahteraan umum, semakin baik keduanya &lt;b style=""&gt;menjalin kerjasama yang sehat&lt;/b&gt;, dengan mengindahkan situasi setempat dan semasa."&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Konst. Dog. Tentang Gereja, dalam Dokumen Konsili Vatikan II, Dokumentasi dan Penerangan KWI, Obor 1993, art. 76&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center; text-indent: -0.5in;" align="center"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;II.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;MEMBANGUN RUANG BERSAMA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dalam rangka ruang bersama ini dapat kita cermati sumbangan masing-masing bagian bagi bagian lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1064" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:154.8pt;" allowincell="f" filled="f"&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1065" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;" allowincell="f" filled="f"&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1066" style="'position:absolute;" allowincell="f" filled="f"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td height="1" width="205"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Woly/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image012.gif" shapes="_x0000_s1064 _x0000_s1065 _x0000_s1066" height="148" width="175" /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;I.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;RUANG OTONOMI KHUSUS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;RELIGIOSITAS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Dalam ruang otonomi khusus religiositas (A) kita dapat mengembangkan dialog antar-penganut berbagai agama dan tradisi spiritualitas untuk mencari &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan menemukan inti agama yang mempersatukan manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Konsili Vatikan II mendorong orang Katolik untuk mengembangkan dialog yang jujur dengan pemeluk agama bukan kristen (pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-agama bukan kristiani.) Pernyataan ini menyebutkan, "dalam tugasnya mengembangkan kesatuan dan cintakasih antar manusia, bahkan antar bangsa, Gereja disini terutama mempertimbangkan manakah hal-hal yang ada pada umumnya terdapat pada bangsa manusia,. Dan yang mendorong semua untuk bersama-sama menghadapi situasi sekarang". 7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;" lang="SV"&gt;Bdk. Vatikan II, Nostra aetate, 28 October 1965, art 1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Di Indonesia rumusan sila pertama pada Pancasila merupakan formulasi yang menjadi dasar umum bagi warga masyarakat Indonesia untuk membangun bersama lagi bagi seluruh warga masyarakat tanpa memandang agama-agama masing-masing. Dalam masyarakat majemuk seperti diIndonesia ini beriman berati beriman bersama dengan yang lain. &lt;sup&gt;8&lt;/sup&gt;. Dalam mengembangkan religisitas ini dapat dirayakan kemajemukan, karena dalam religiositas itu ada agama-agama (plural, majemuk) bukan hanya agama (singularis, tunggal), ya bahkan ekspresi religiositas dalam berbagai macam tradisi spiritualitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Rm. JB.Mangunwijaya, Pr (alm); Being religious= being interreligious&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Dialog inter-religius dapat berkembang bila bersumber pada pengalaman Allah, yang mengatasi kenyataan duniawi namun sekaligus juga diperkaya oleh kesadaran manusia akan kemanusiaannya. Saling keterhubungan antar-ruang memungkinkan nilai-nilai religius ibarat ragi dapat menyumbang terjadinya pengudusan dunia bagaikan dari dalam &lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt; dan menjadi motivasi dasar hidup bermoral.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Bdk. Lumen gentium, art.31&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Dengan demikian, sila pertama menjadi sumber motivasi untuk mengamalkan sila-sila yang lain: dalam menjunjung tinggi martabat manusia, membangun bangsa yang bersatu, mengadakan pertimbangan-pertimbangan untuk mengambil keputusan bersama serta menegakkan kesejahteraan umum bagi seluruh masyarakat &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;B SEKULARITAS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Ruang sekularitas (B) memuat tata dunia, yakni nilai-bilai hidup dan keluarga, kebudayaan, urusan ekonomi, kesenian dan profesi, lembaga-lembaga negara, hubungan-hubungan internasional dan lain sebagainya, beserta perkembangan dan kemajuannya. 10 Ruang sekularitas ini mewujudkan diri dalam tata hidup bermasyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Bdk. Dekrit tentang Kerasulan Awam, art.7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;C MORALITAS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Ruang moralitas © memuat nilai-nilai yang baik, benar dan indah (&lt;i style=""&gt;bonum, verum&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;pulchrum&lt;/i&gt;), yang dikehendaki oleh manusia, diperjuangkan terus-menerus, yang selalu mengatasi kekinian manusia, karena manusia pada hakekatnya pribadi &lt;i style=""&gt;transendens&lt;/i&gt; yang selalu bergerak menuju Allah, nilai tertinggi bagi hidupnya &lt;i style=""&gt;(summum bonum, summum verum, summum pulchrum&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3&gt;II. RUANG DIALOG&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Dialog kata bahasa Yunani, bentukan dari &lt;i style=""&gt;dia&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;loge&lt;/i&gt;, artinya pembicaraan yang menembus, pembicaraan yang mendalam (&lt;i style=""&gt;in-depth discourse&lt;/i&gt;). Menuju kedalaman itu ada lapis-lapis keberagaman (pluralitas). Keberagaman itu adalah kenyataan hidup manusia bersama dengan yang lain. Dapat dikatakan pluralitas adalah realitas hidup manusia. Pada lapis-lapis pluralitas itu dapat kita sebut antara lain: kepentingan, pendapat, opini, minat, kesukaan; tugas, kedudukan, status hidup; sejarah, usia, tempat tinggal; filsafat hidup, ideologi, visi politik; agama, tradisi spiritualitas; budaya, bahasa, etnis, ras, suku, laki-laki, perempuan. Dan pada dasar kedalaman itu adalah kemanusiaan, martabat manusia (&lt;i style=""&gt;human dignity&lt;/i&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Kepentingan, pendapat, opini, minat, kesukaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Tugas, kedudukan, status hidup;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Sejarah hidup, ideologi, visi hidup;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;Agama, tradisi spiritualitas;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="IT"&gt;Budaya, bahasa,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Etnis, ras, suku;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Laki-laki perempuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dialog sungguh baru terjadi, bila pembicaraan antar pihak-pihak yang terlibat sampai pada dasar kedalaman tersebut, yaitu manusia yang bermartabat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;III.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;RUANG BERSAMA UNTUK SELURUH MASYARAKAT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;A-B-C :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Religiositas - Sekularitas - Moralitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Ruang bersama ini (A-B-C) terbuka untuk seluruh warga yang berkehendak untuk hidup bersama sebagai satu bangsa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dalam ruang itu tentu ada peraturan main yang disepakati bersama. Undang-undang dasar menjadi formulasi kesepakatan bersama untuk memperjuangkan kepentingan bersama (&lt;i style=""&gt;res publica&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Para pendiri bangsa kita menyadari, bahwa negara yang dibangun dengan nama Indonesia ini dibangun oleh seluruh komponen bangsa untuk memperjuangkan kepentingan umum (&lt;i style=""&gt;bonum publicum&lt;/i&gt;). Untuk itu perlu dibangun ruang publik, buah dari dialog, kompromi, pertentangan pendapat, kesepakatan-kesepakatan dari berbagai dan beragam komponen (suku/ras, agama, budaya, sejarah dll.) Pada ruang publik itu warga bangsa ini bercita-cita dapat berkembang bersama memperjuangkan cita-cita kemerdekaan. Pada ruang publik itu setiap komponen diharapkan dapat menyumbangkan nilai-nilai baik, benar dan indah (&lt;i style=""&gt;bonum-verum-pulchrum&lt;/i&gt;) untuk membangun masyarakat warga (&lt;i style=""&gt;civil society&lt;/i&gt;) tanpa paksaan yang datang dari kekuasaan lembaga agama maupun lembaga politik. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;11&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Lih. Hamdan Farchan, Membongkar reduksi Agama Membangun "Civil Society", Dlm. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;" lang="SV"&gt;Reformasi Kehidupan Bernegara, Dari Krisis ke Reformasi, KOMPAS, Jakarta, 1999,hal.228-231&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dalam ruang publik itu, telah terjadi kesepakatan-kesepakatan nasional, yang dijadikan dasar membangun hidup bersama dan memperjuangkan cita-cita bersama. Di Indonesia dasar bangunan itu adalah Pancasila dan UUD 1945 (dan perubahannya).&lt;sup&gt;12&lt;/sup&gt; Dengan kesepakatan konstitusional ini dapat kita temukan roh pembangunan yang transformatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;" lang="SV"&gt;Lih. GBHN, Ketetapan MPR RI, No. IV/MPR/1999, GBHN 1999-2004, Penabur Ilmu, s.d.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dalam komunikasi antar nilai itu pendidikan (sistem, lembaga, kurikulum, dll.) memiliki peran sangat strategis bagi pembangunan watak bangsa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Sungguh sangat memprihatinkan, dewasa ini kita sedang menyaksikan tanda-tanda robohnya Republik Indonesia dalam perspektif korelasi antara agama-politik-pendidikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Bila moral yang menunjuk pada nilai kemanusiaan, kebaikan umum masih berperan menjadi sumber pertimbangan dalam berperilaku, ada harapan bangsa ini keluar dari keterpurukan karena krisis yang berkelanjutan. Dan kita dapat terlepas dari ancaman robohnya Republik Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun kenyataannya, bangsa ini menjadi semakin terpuruk dalam disintegrasi, karena krisis moral itu terjadi hampir di segala bidang kehidupan. Sebabnya, karena kekuasaan di-(salah)-gunakan untuk kepentingan sendiri, sehingga merusak ruang agama, ruang politik dan pendidikan. Upaya demikian ini tidak memberi tempat pada komponen lain untuk berada dan hidup bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Ps 29 UUD 45 merupakan semacam &lt;i style=""&gt;code of conduct&lt;/i&gt; yang memungkinkan warga masyarakat Indonesia mampu hidup bersama tanpa memandang suku, agama, ras maupun golongan. Dalam ruang bersama itu setiap warga diharapkan dapat memberikan sumbangannya bagi pembangunan yang transformatif bagi bangsa dan negara.&lt;sup&gt;13&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sungguh memprihatinkan, bahwa Paradigma Baru Pendidikan Religiositas ini menghadapi aliran reduksionisme yang terdapat dalam RUU tentang Sistem Pendidikan Nasional (RUU SISDIKNAS), yang memicu sikap pro dan kontra sampai saat ini, meskipun telah disahkan pada tanggal 11 Juli 2003.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;IV.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;GLOBALISASI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, khususnya dalam bidang informasi, telah memacu proses globalisasi yang berpengaruh pada semua dimensi hidup manusia dalam religiositas, sekularitas maupun moralitas. Pribadi manusia, yang harus menjadi pusat setiap proyek sosial mempunyai peran besar untuk memastikan bahwa globalisasi terjadi dalam solidaritas, suatu globalisasi tanpa marginalisasi. Globalisasi harus dikaitkan dengan solidaritas.&lt;sup&gt;14&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 31.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Bdk. Message of His Holiness Pope John Paul II for Celebration of the World Day of Peace, &lt;/i&gt;&lt;st1:date year="1998" day="1" month="1"&gt;&lt;i style=""&gt;1 January &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;1998&lt;/i&gt;&lt;/st1:date&gt;&lt;i style=""&gt;. Lh. Nota Pastoral: Menghayati Iman dalam Arus-Arus Besar Zaman Ini, Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang, 2002.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Media &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; mempunyai andil besar untuk mendorong terjadinya dialog antarwarga masyarakat, agar setiap orang menjadi mampu untuk mengadakan rembug bersama untuk menentukan sikap-sikap dasar (&lt;i style=""&gt;community discernment&lt;/i&gt;) terhadap nilai-nilai. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan dengan demikian media massa dapat mendukung untuk menciptakan opini publik yang sehat dengan mengembangkan ruang bersama bagi seluruh warga masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dalam ruang bersama untuk seluruh warga ini seorang warga hidup bersama dalam ruang &lt;i style=""&gt;res publica&lt;/i&gt;, karena setiap warga masyarakat hidup merdeka dalam menghayati imannya secara pribadi, yang memberi makna bagi perjuangannya untuk menghargai martabat manusia dan menegakkan nilai-nilai moral dan etika global.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dalam kerangka berpikir demikian yang disebut dengan "&lt;i style=""&gt;civil religion&lt;/i&gt;" (J.J. Rousseau) tentu bukan suatu agama,bukan pula suatu agama baru, melainkan suatu ruang bersama yang merupakan buah dari proses dialog&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terus menerus dalam usaha manusia agar dapat hidup merdeka berinspirasi pada nila-nilai religius agama-agama serta tradisi spiritualitas khasnya masing-masing sebagai nilai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;universal dan perennial yang menyentuh jati diri setiap manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;III.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;MENGEMBANGKAN PARADIGMA BARU PENDIDIKAN RELIGIOSUTAS UNTUK TRANSFORMASI PEMBANGUNAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;GERAKAN APRESIASI PANCASILA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dengan kesepakatan konstitusional (Pancasila dalam UUD 1945) dapat kita temukan roh pembangunan yang transformatif. Pembangunan yang transformatif dapat terselenggarakan demi kepentingan umum (&lt;i style=""&gt;bonum publicum&lt;/i&gt;), bila diselenggarakan menurut logika konstitusional. Logika tersebut bersumber pada Pembukaan UUD 1945 sebagai rohnya, dan pasal-pasal yang terumus dalam tubuh UUD 1945.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Selama rezim Orde Baru Pancasila telah dijadikan alat legitimasi pelestarian kekuasaan, sehingga kehilangan makna transformasinya. Dengan itu, masyarakat menjadi alergi terhadap Pancasila. Karena itu perlu, sekarang ini kita lakukan upaya penyembuhan luka bangsa ini dengan Gerakan Apresiasi Pancasila.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Pancasila dalam UUD 1945, yang telah disepakati menjadi dasar bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia, hendaknya semakin diperkokoh dengan mendalami, menemukan nilai-nilainya serta implementasinya dalam konteks masyarakat majemuk yang selalu berubah dan membarui diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dalam lokakarya ini Analisis serta Rencana Strategis Daerah jawa Tengah 2003-2008 perlu dikembangkan dan dilengkapi dengan roh pembangunan agar pembangunan menjadi transformatif demi keutuhan martabat manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;LOGIKA KONSTITUSIONAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Untuk memajukan religiositas yang terbuka logika konstitusional tersebut mengikuti pola sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;(dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perubahannya)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Dan perjuangan pergerakan telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kemudian dari itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184666923841973429-6495716251219649280?l=inspirasikas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inspirasikas.blogspot.com/feeds/6495716251219649280/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184666923841973429&amp;postID=6495716251219649280' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/6495716251219649280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/6495716251219649280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inspirasikas.blogspot.com/2007/04/webkasdokgagasan2004-paradigma-baru.html' title='webkasdokgagasan2004 Paradigma Baru'/><author><name>seger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18019764020165012167</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4184666923841973429.post-8124604666947209772</id><published>2007-04-10T20:59:00.000-07:00</published><updated>2007-04-10T21:02:06.553-07:00</updated><title type='text'>webkasdokgagasan2002 Gereja Katolik Indonesia Melihat ke Depan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;Gereja Katolik Indonesia Melihat ke Depan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pertemuan "Gereja Katolik Indonesia Melihat ke Depan" &lt;st1:place&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;, Syantikara, 24-27 Oktober 2002 &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PERTEMUAN "GEREJA KATOLIK INDONESIA MELIHAT KE DEPAN", YOGYAKARTA, SYANTIKARA, 24-27 OKTOBER 2002 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;HASIL REFLEKSI BERSAMA SEKELOMPOK WARGA KATOLIK &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengantar&lt;br /&gt;Dua minggu sesudah serangan teror di Kuta, dan 40 tahun sesudah Paus Johannes XXIII membuka Sidang Pertama Konsili Vatikan II, 28 peserta terdiri dari uskup, awam, suster dan imam Katolik Indonesia, bersama empat tamu dari Misereor , berkumpul di Yogyakarta untuk bersama-sama merenungkan situasi bangsa dan negara serta implikasi-implikasi bagi Gereja Katolik Indonesia. Refleksi bersama ini dipahami sebagai salah satu usaha untuk melanjutkan dan mengaktualkan hasil-hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2000. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berikut ini dirumuskan hasil refleksi bersama ini. Teks terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama mengangkat beberapa pernyataan penting Sidang Agung tahun 2000 yang lalu. Bagian kedua memaparkan hasil terpenting refleksi bersama di Syantikara ini, dibagi dalam tiga bagian: Pertama disebutkan beberapa pengamatan relevan mengenai situasi Indonesia sekarang. Kemudian ditunjuk beberapa kelemahan dan masalah Gereja yang menjadi lebih jelas berhadapan dengan tantangan-tantangan situasi Indonesia itu tadi. Akhirnya dirumuskan langkah-langkah yang perlu diambil Gereja Katolik Indonesia. Bagian ketiga memfokus pada apa yang dianggap paling mendesak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;I. BERTOLAK DARI HASIL SAGKI 2000&lt;br /&gt;Dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia Tahun 2000 dicetuskan sebuah teks yang amat penting bagi umat Katolik Indonesia dan sementara ini sudah menjadi kertas kerja bagi banyak kelompok umat Katolik di seluruh Nusantara. Teks pertemuan di Syantikara mau dipahami sebagai salah satu usaha untuk membuat nyata apa yang digariskan dalam SAGKI 2000 itu dengan maksud untuk menerjemahkannya menjadi pengarahan tindakan nyata dalam Gereja Katolik Indonesia. Oleh karena itu di sini diangkat beberapa pokok hasil SAGKI itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;SAGKI bertolak dari pertanyaan: "Bagaimana kita umat Katolik sebagai warga masyarakat melibatkan diri dalam pergumulan bangsa ini mewujudkan Indonesia baru yang lebih adil, lebih manusiawi, lebih damai, dan memiliki kepastian hukum?" (nr. 6) Fokus refleksi ketika itu adalah "perwujudan komunitas-komunitas basis" sebagai "upaya pemberdayaan umat ... untuk mewujudkan Gereja sebagai persekutuan komunitas-komunitas" (nr. 7). SAGKI dengan demikian mengharapkan ikut "mewujudkan kehidupan beriman dan menggereja yang lebih aktif serta menjadi lebih siap untuk ikut berperan di tengah masyarakat kita. Dengan cara itu kita semua bergerak bersama menanggapi panggilan Roh Allah sendiri" (nr. 8). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;SAGKI menjelaskan komunitas basis sebagai "satuan umat yang relatif kecil dan yang mudah berkumpul secara berkala untuk mendengarkan firman Allah, berbagi masalah sehari-hari, baik masalah pribadi, kelompok maupun masalah sosial, dan mencari pemecahannya dalam terang Kitab Suci. Komunitas basis seperti ini terbuka untuk membangun suatu komunitas yang juga merangkul saudara-saudara beriman lain". Gereja dengan demikian "diharapkan bisa lebih mengakar, lebih kontekstual dan mampu menjalankan perannya dalam menggarami dunia dengan lebih baik" (nr. 10). Di dalam dokumen akhir SAGKI memberikan beberapa arahan sangat penting: · Mengenai hubungan dengan umat beragama lain SAGKI menyatakan perlu dibangunnya "'dialog kehidupan', 'dialog karya', dan 'dialog iman'" dan selanjutnya menegaskan bahwa "dalam keadaan apa pun tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membina hubungan antar umat beragama demi mewujudkan Indonesia baru yang damai dan harmonis" (nr. 12). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;· SAGKI mengritik "mentalitas pemimpin (dalam Gereja) yang tertutup, paternalistik, sulit memahami kepemimpinan partisipatif, tidak mau menerima terobosan baru, mendominasi, menghambat karya awam" (nr. 14).&lt;br /&gt;· Sebagai padanan "ditemukan pula mentalitas awam yang masih tergantung pada hirarki, eksklusif, kurang ada inisiatif menjadi pemimpin, tidak mau menerima terobosan baru, paternalistik, pastor sentris, sombong dan merasa superior" (ib.). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam hubungan dengan hambatan sikap mental tersebut di atas, SAGKI memberikan uraian yang di sini mau dikutip secara lengkap (nr. 15):&lt;br /&gt;a. Berkaitan dengan sikap mental, perlu perubahan mendasar antara lain dari pola spiritualitas yang terlalu individualistis dan hanya vertikal ke pola religiositas yang memerdekakan, dari sikap mendominasi kaum perempuan ke kesetaraan martabat manusia, dari pola eksklusif ke keterbukaan terhadap saudara-saudara seiman maupun umat lain, dari liturgi yang ritualistik ke liturgi yang berpihak kepada kaum miskin, dari Gereja yang legalistik ke Gereja yang spiritual-profetis, dari eksploitasi lingkungan hidup ke pelestarian fungsi lingkungan hidup, dan dari sikap yang sibuk dengan diri sendiri ke sikap tanggap terhadap situasi bangsa dan negara.&lt;br /&gt;b. Berkaitan dengan struktur, perlu perubahan mendasar antara lain dari kepemimpinan piramidal-klerikal ke kepemimpinan kolegial-partisipasif, yang melibatkan kaum muda, biarawan-biarawati, perempuan, dan kaum miskin dalam pengambilan keputusan.&lt;br /&gt;c. Berkaitan dengan pola pendekatan, perlu perubahan mendasar antara lain, dari pola pastoral yang berpusat pada paroki ke pola yang berpusat pada komunitas basis. Untuk itu dibutuhkan pola pendidikan calon imam dan biarawan/wati yang lebih terbuka dan memasyarakat." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Akhirnya kami mau mengutip peringatan SAGKI, bahwa "Sidang Agung ini akan menjadi suatu peristiwa sejarah yang bermakna bila diikuti dengan tindak lanjut nyata di tahun-tahun mendatang" (nr. 20) serta himbauan akhir agar "umat Katolik Indonesia secara nyata mau bersetiakawan dengan semua orang yang menderita dan menjadi korban dari pihak mana pun ..." (nr. 22). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;II. Refleksi atas keadaan Gereja dan langkah-langkah yang perlu diambil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;1.Gereja: Sebuah Gerakan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kami bertolak dari pandangan bahwa Gereja merupakan gerakan dan bukan pertama-tama sebuah lembaga. Gereja bergerak dalam masyarakat, dalam dunia, membawa daya penyelamat Ilahi. Maka Gereja adalah sebuah peristiwa. Di mana Gereja ada, harus terjadi sesuatu. Yaitu perubahan ke arah perdamaian, keadilan, dan solidaritas nyata dengan orang-orang miskin. Sebagai gerakan, Gereja juga sebuah persaudaraan dalam kasih yang membangun paguyuban untuk bersama-sama membawa pesan Kristus ke dalam masyarakat. Konsili Vatikan II menyebut Gereja sebagai sakramen: Di mana Gereja bergerak, keselamatan Ilahi harus bisa terasa. Maka Gereja harus menyatu dengan masyarakat, ia diutus ke dalam masyarakat. Gereja menjadi nyata dalam komunitas basis, dalam umat nyata di tempat masing-masing yang menjadi garam di tengah-tengah masyarakat di mana ia hidup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Apakah Gereja dalam kenyataan sudah melaksanakan cita-cita itu? Ataukah Gereja terbelenggu dalam struktur-struktur kaku yang tidak mengizinkannya bergerak? Jawaban atas pertanyaan itu dapat diperoleh berhadapan situasi nyata bangsa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2. Bangsa Indonesia: Terpuruk &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Adalah suatu kenyataan bahwa bangsa Indonesia, meskipun sudah sejak empat tahun menikmati kebebasan demokratis dan hak-hak asasi manusia memang lebih terjamin daripada dalam puluhan tahun sebelumnya, tetap berada dalam krisis. Kalau bangsa-bangsa tetangga sudah berhasil ke luar dari krisis yang mulai dengan krisis moneter lima tahun yang lalu, maka bangsa Indonesia terpuruk dalam segala macam masalah. Ada bahaya bahwa bangsa akan kehilangan harapannya. Serangan teror di Bali hanya menunjukkan betapa mudah kita dipukul. &lt;/span&gt;Dan pemerintah tetap tidak menunjukkan sense of crisis maupun sense of urgency. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Karena itu, pemerintah tidak menunjukkan kekuatan moral untuk membawa bangsa ke luar dari krisis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun masalahnya bukan hanya di pemerintah. Masyarakat semakin kehilangan kepercayaan pada para politisi dan partai politik yang dilihat hanya mengusahakan kepentingan mereka sendiri dan terlibat dalam money politics. Korupsi merajalela dari atas sampai ke bawah. Pembawaan para wakil rakyat di DPR dan DPRD memberi kesan bahwa mereka memandang tugas panggilan mereka semata-mata sebagai kesempatan untuk cepat-cepat memperkaya diri. Otonomi daerah memungkinkan pejabat setempat sepenuhnya melibatkan diri dalam korupsi dan penghisapan rakyat mereka sendiri. Para hakim bisa dibeli. Kedaulatan hukum tinggal impian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sejak beberapa tahun terus menerus ada bom-bom meledak, dengan puncak pada malam Natal dua tahun lalu, tetapi belum sekali pun para dalang dan latar belakang perbuatan teror itu dibuka. Di mana-mana terjadi tindak kekerasan, premanisme merajalela, angkatan bersenjata dan kepolisian diketahui oleh masyarakat menjadi beking penyelundupan dan narkoba, konflik-konflik antar umat beragama di Indonesia Timur dan konflik-konflik di Kalimantan tidak ditangani secara serius, konflik-konflik etnik pun selalu mengancam. Sementara ini agama menjadi faktor politik. Pelbagai laskar, satgas, pamswakarsa dan organisasi swasta para-militer dengan impunity dapat mengancam dan main hakim sendiri. Sikap lebih tegas terhadap tindak terorisme seakan-akan hanya karena tekanan dari luar negeri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berbeda dengan perekonomian di beberapa negara tetangga, perekonomian Indonesia belum pulih dari krisis 1997. Jurang antara kaya dan miskin semakin melebar. Sistem penggajian sangat tidak adil. Buruh tidak menerima gaji keluarga. Kaum buruh industri menjadi kurban penghisapan dan dehumanisasi; mereka hanya dipandang sebagai faktor produksi dan tidak dilihat sebagai subjek dan manusia. Perekonomian dijalankan menurut prinsip-prinsip kapitalisme, hal mana berarti bahwa situasi ini tidak akan berubah. Dengan demikian ketidakadilan struktural semakin membeku. Apabila di tahun 2003 Indonesia membuka diri bagi perdagangan bebas dalam rangka AFTA, kemungkinan besar kemiskinan di dalam negara kita justru akan meluas. Globalisasi yang tidak dikuasai dan diarahkan menurut kepentingan nasional akan menciptakan ketidakadilan baru dan memperparah keadaan kaum miskin di negara ini. Sebaliknya, terutama di kota-kota besar semangat konsumerisme semakin merajalela. Perpecahan bangsa antar mereka yang bisa menghamburkan uang dan mereka yang dengan susah payah hidup secara pas-pasan terus melebar. Sementara ini hutang negara semakin melumpuhkan kemampuan negara untuk bertindak secara efektif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Salah satu masalah di Indonesia adalah hubungan di antara agama-agama, khususnya antara agama Islam dan agama Kristen. Di satu pihak ada perkembangan-perkembangan yang memberi harapan, di lain pihak umat tetap masih merasa cemas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Satu peristiwa yang membesarkan hati adalah semakin mendekatnya umat Kristen de-ngan NU dan Muhammadiah dan keinginan pimpinan kedua organisasi Muslim terbesar di Indonesia ini untuk memelopori penciptaan perdamaian dan toleransi di Indonesia. Dalam umat Islam – yang sangat majemuk - ada gerakan-gerakan yang aktif mengusahakan perdamaian dalam masyarakat dan memiliki komitmen pada sikap humanis serta terbuka bagi hubungan dengan Gereja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tetapi ada juga tendensi-tendensi yang mengkhawatirkan. Di situ termasuk pelbagai organisasi radikal dan bahasa keras dan mengancam dalam banyak publikasi Islam. Ada daerah-daerah di mana umat kita hampir tidak bebas untuk beribadat. Hak dan keperluan minoritas untuk bebas beribadat di pelbagai tempat ditindas dengan sadar. Pendidikan anak kecil agar tidak bergaul dengan anak beragama lain, larangan untuk mengucapkan selamat hari raya kepada warga beragama lain, berpotensi untuk mempersulit komunikasi positif antar umat beragama dan dalam sepuluh dua puluh tahun mendatang bisa menciptakan suasana di mana umat Kristen betul-betul tertekan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;3. Gereja Ditantang Di mana Gereja berada dalam situasi ini? Apakah ia betul-betul sebuah gerakan yang berhadapan dengan keterpurukan bangsa, secara meyakinkan menjadi saksi kasih sayang dan solidaritas Allah? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Gereja Katolik, dan Gereja Katolik Indonesia, sadar bahwa ia harus pertama-tama menjadi Gereja bagi orang miskin. Kemiskinan merupakan keadaan yang seakan-akan terus semakin membelenggu mereka yang terbelenggu olehnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kemiskinan berarti tergantung dari kebaikan orang lain, maka kemiskinan sering menghasilkan sikap orang yang mau menerima saja, sehingga orang miskin semakin tidak berdaya untuk ke luar dari kemiskinannya. Kemiskinan adalah akibat pembagian kekuasaan yang tidak seimbang. Orang miskin merupakan kurban ketidakadilan dalam masyarakat. Gereja menyadari diri harus berpihak pada orang miskin, harus menjadi kekuatan yang membantu orang miskin untuk membebaskan diri dari ketergantungan dan dengan demikian ke luar dari kemiskinan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tetapi dalam kenyataan Gereja Katolik Indonesia malah memberi kesan bahwa dia Gereja orang kaya. Umat mengritik bahwa ada imam-imam dan religius yang gaya hidupnya mengikuti gaya hidup kaum elit, lengkap dengan mobil pribadi, handphone dan atribut-atribut lain. Adalah gawat bagi Gereja apabila mereka yang menjadi gembala ikut dengan gaya hidup elit di mana orang miskin adalah kurbannya. Begitu pula lembaga-lembaga Gereja semakin tertutup terhadap orang miskin karena mereka tidak dapat membayar biayanya. Suatu kenyataan yang amat memalukan bahwa ada lembaga-lembaga gerejani yang mengeksploitasi karyawan-karyawan mereka, misalnya bertahun-tahun lamanya membiarkan mereka dalam status honorer, atau membayar gaji yang sangat rendah. Bahkan dalam Gereja pun sudah ada kasus-kasus korupsi dan ketidakjujuran. Keengganan banyak rohaniwan dan rohaniwati dalam kedudukan penting untuk memberikan pertanggungjawaban transparan, baik kepada para atasan mereka maupun terhadap umat, merupakan hal yangtidak dapat dibenarkan. Di situ korupsi mulai merasuk ke tubuh Gereja. Dan itu terjadi pada orang-orang yang mengikatkan diri pada Tuhan dalam kaul kemis-kinan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gereja, 40 tahun sesudah Konsili Vatikan II membongkar dasar-dasar teologis klerikalisme, bukannya cepat bergerak dalam masyarakat, bahkan sebaliknya tetap masih bersikap klerikal, paternalistik, otoriter. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;· Ada sebuah dikotomi: Di satu pihak orang rajin ke gereja, ikut berziarah dan novena, tetapi di lain pihak tidak memberikan kesaksian di tengah masyarakat dengan hidup yang bermoral, yang mencerminkan imannya. Kita membangun gereja-gereja, tetapi bukan kehidupan umat.&lt;br /&gt;· Kepemimpinan dalam Gereja masih hirarkis dan paternalistik, bukan egalitarian dan partisipatif. Umat kurang mengambil inisiatif, dan kalau ada inisitatif maka sering kurang tersalur. Para awam tetap masih sangat tergantung dari para imam, rohaniwan dan rohaniwati.&lt;br /&gt;· Gereja tidak berani melakukan jabatan kenabian dengan memberikan kesaksian melawan ketidakadilan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;· Pendekatan pastoral teritorial-sakramental sangat dominan, sedangkan kesaksian di tengah masyarakat kurang dipahami sebagai panggilan khas seorang kristiani.&lt;br /&gt;· Kaum awam memang banyak yang aktif di dalam Gereja, tetapi yang mereka maksud adalah ikut dalam mengurus paroki dan sering ke pastoran. Mengurus paroki memang termasuk tanggungjawab umat, tetapi panggilan kaum awam yang sebenarnya, yaitu menyucikan dunia, atau menjadi saksi keselamatan Kristus dalam masyarakat, melalui hidup dan karya mereka, untuk sebagian besar tidak disadari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;4. Apa yang harus dilakukan Gereja? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1. Dimensi politis-ekonomis-sosial &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam dimensi politis-ekonomis-sosial pun Gereja harus menjadi saksi dan pembawa kebaikan Allah ke dalam masyarakat. Itu berarti bahwa Gereja secara konsisten, dengan menyingkirkan segala sikap oportunis, harus menyuarakan perdamaian, penghormatan terhadap harkat kemanusiaan, keadilan serta solidaritas dengan saudara-saudari miskin ke dalam masyarakat. Hal itu mengimplikasikan bahwa Gereja secara meyakinkan mendukung demokrasi dan jaminan terhadap hak-hak asasi manusia. Terhadap umat Islam dan aspirasi-aspirasi wajar mereka Gereja perlu mengambil sikap yang positif. Gereja sangat mendukung apabila kaum awam mengambil inisiatif dalam bidang politik, membentuk gerakan dlsb. Gereja perlu menciptakan budaya saling menghormati dan inklusif dalam bidang politik dan dalam masyarakat pada umumnya. Alangkah baiknya kalau KWI menulis surat gembala yang mengutarakan sikap prinsipiil Gereja itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gereja ikut bersama kekuatan-kekuatan berkehendak baik lain dalam usaha menyelamatkan masyarakat dari keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Gereja harus memperjuangkan hak-hak orang miskin, kaum buruh, orang kecil. Ia harus menjadi sahabat orang miskin. Yang sangat mendesak adalah agar Gereja mempermaklumkan, serta melaksanakan, ajaran sosialnya. Sikap "mengutamakan orang miskin" harus menjadi kenyataan. Kami ingin menegaskan secara khusus bahwa Gereja Indonesia hendaknya memberi dukungan terhadap pelbagai usaha untuk mengembangkan perekonomian rakyat (seperti misalnya mengembangkan koperasi kredit/bagi hasil, atau mendukung unit usaha kecil). Begitu pula kita hendaknya mendukung secara aktif usaha-usaha untuk meningkatkan ketrampilan penduduk-penduduk asli, terutama di Indonesia Timur dan di Kalimantan, dalam pelbagai ketrampilan. Dengan demikian Gereja ikut memperkuat civil society. Gereja harus menjelaskan ajaran sosialnya kepada para pengusaha, pertama-tama yang menjadi warganya sendiri. Gereja juga perlu mendukung usaha-usaha internasional untuk memecahkan masalah hutang luar negeri negara-negara berkembang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di tingkat paroki dan komunitas basis, fungsi dan kegiatan PSE perlu diperbaharui supaya tidak semata-mata berfungsi sebagai birokrasi karitatif. Penggunaan dana yang dikumpulkan lewat APP perlu dipertanggungjawabkan secara transparan kepada umat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Demi menciptakan suasana damai dalam masyarakat dan sinergi usaha untuk memajukan bangsa, tetapi juga, sesuai dengan Konsili Vatikan II, demi hormat terhadap agama-agama lain, Gereja Katolik perlu secara konsisten bersikap positif terhadap umat Islam. Gereja mendukung gerakan-gerakan dalam Islam yang semakin peka terhadap kemanusiaan dan kebangsaan. Gereja harus secara meyakinkan membawa sikap yang pluralistik dan inklusif. Perlu kita bangun hubungan dengan umat beragama lain untuk bersama-sama menyelamatkan bangsa. Dalam hal ini Gereja perlu berusaha supaya dapat dialami dalam masyarakat sebagai sahabat, sebagai ramah, dapat dipercaya, dan tidak ditakuti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Maka para pemimpin harus mengajak umat untuk berpandangan positif terhadap umat beragama lain dan untuk menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Umat hendaknya tidak apriori dan lalu tidak berani membuka kontak. Tidak cukup kalau hubungan baik terbatas pada tingkat pemimpin agama. Di tingkat akar rumput perlu ada komunikasi positif dengan umat Islam dan umat beragama lain. Komunitas-komunitas basis perlu mengusahakan hubungan baik dengan umat Islam setempat. Misalnya dengan bersilaturahmi kepada tokoh Islam di wilayahnya. Dewan Paroki sebaiknya membentuk komisi HAK (hubungan antar agama dan kepercayaan). Dialog dari dan bagi kehidupan merupakan cara baik untuk berhubungan dengan umat beragama lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam hubungan ini kami mencatat kenyataan bahwa banyak umat bingung tentang apakah, dan partai manakah, yang harus mereka pilih dalam pemilihan umum. Kami menyarankan agar KWI, meskipun tetap akan mendukung kebebasan umat untuk memilih menurut keyakinannya sendiri, namun mengadakan pembicaraan-pembicaraan tentang kemungkinan memberikan pengarahan resmi kepada umat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2. Lembaga-lembaga Gereja &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam masyarakat Indonesia Gereja Katolik hadir dan kelihatan terutama melalui karya-karyanya di bidang pendidikan dan kesehatan. Khususnya bidang pendidikan Katolik menderita penyakit institusionalisme, sebagian sebagai akibat kebijakan sosial Orde Baru. Artinya, hampir seluruh enersinya habis hanya untuk mempertahankan lembaganya, untuk mencapai peringkat yang baik, bahkan untuk menghasilkan pendapatan tinggi. Tetapi untuk apa sebenarnya kita menyelenggarakan pendidikan, tidak lagi dilihat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Maka sangat perlu para penyelenggara sekolah-sekolah Katolik duduk bersama untuk merumuskan kembali tujuan suatu pendidikan yang bermutu, tujuan pendidikan Katolik. Sekolah-sekolah kita hendaknya mendidik generasi muda yang aktif dan kreatif, yang bukan diarahkan untuk asal mengisi lowongan kerja yang sudah disediakan, melainkan untuk menciptakan pekerjaan sendiri. Pendidikan bukan untuk selekas mungkin menemukan pekerjaan, melainkan untuk memperoleh sikap yang menunjang seluruh kehidupan. Bukan hanya kecerdasan kognitif, melainkan kreativitas, keberanian dan imaginasi perlu dikembangkan, dengan sekaligus anak didukung dalam mengembangkan kepribadian moral. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kenyataan bahwa sekolah-sekolah kita semakin hanya dapat dimasuki oleh orang-orang kaya, harus dibalik. Sekolah-sekolah kita harus juga terbuka bagi orang miskin. Misalnya dapat diusahakan agar 10% dari murid terdiri atas anak-anak dari keluarga miskin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karya kesehatan pun perlu merumuskan kembali tujuannya. Jangan mereka terjebak dalam persaingan keuntungan finansial. Dapat diharapkan bahwa mereka unggul dalam "human approach". Orang miskin perlu mendapat akses pada pelayanannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3. Komunikasi sosial &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hampir 40 tahun sejak Konsili Vatikan II mengeluarkan dekrit Inter Mirifica tentang pentingnya komunikasi sosial (massa) sambil mengakui adanya “penemuan teknologi yang menakjubkan itu”, apresiasi Gereja terhadap alat-alat komunikasi sosial itu masih rendah. Bergitu pula himbauan Inter Mirifica agar “semua orang yang berkepentingan perlu membentuk hati nurani yang tepat mengenai penggunaan alat-alat ini” sebagai “bagian dari tugas Gereja untuk mewartakan berita keselamatan”, belum cukup tampak dalam kehidupan menggereja sehari-hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gereja bukan hanya “tidak pantas berpangku tangan” (IM), melainkan sebagaimana diserukan Bapa Suci dalam perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia bulan Mei 2002 lalu, perlu “duc in altum” (mengayuh ke tempat yang lebih dalam), berani mengambil risiko merambah dunia teknologi informasi baru, termasuk mengambil prakarsa menggunakan internet untuk mewartakan kabar gembira itu. Gereja Katolik Indonesia masih ketinggalan di bidang ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kami juga mencatat betapa Gereja semakin lemah dalam pengembangan database dengan wawasan sejarah. Pada tingkat KWI, Keuskupan maupun Paroki, belum ada Litbang yang membangun database, melakukan berbagai riset/penelitian, apalagi yang memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi modern, untuk mendukung berbagai upaya Gereja, baik internal maupun eksternal, seperti yang dicanangkan SAGKI 2000. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;4. Awam dan komunitas basis &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kenyataan bahwa menurut pandangan umum, partisipasi dalam perutusan Gereja dianggap sama dengan ikut aktif dalam paroki – yang tentu termasuk dalam perutusan itu, - tetapi tidak menyadari tugas panggilan untuk menyucikan dunia, menunjukkan betapa perlu diadakan pendidikan kaum awam. Perlu betul-betul dihidupkan kesadaran bahwa di mana pun mereka bergiat, betapa pun "duniawi" kegiatan itu, mereka membawa cahaya, kekuatan dan semangat Kristus ke dalam masyarakat. Bahwa mereka dipanggil untuk, di mana mereka hidup dan bekerja, menjadi kekuatan ke arah perdamaian, kebaikan, kejujuran, keadilan, kepekaan terhadap kebutuhan kaum miskin. Di situ katekese umat bisa memainkan peranan penting, misalnya lewat pendidikan keluarga – sebuah kerasulan yang sangat penting, - di sekolah dan melalui pendalaman iman umat. Generasi muda perlu diberi lebih banyak perhatian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pesan SAGKI 2000 untuk membangun komunitas basis perlu terus diusahakan dalam kesadaran bahwa adanya umat-umat basis akan mengakarkan Gereja dalam masyarakat dan membuat nyata ciri Gereja sebagai gerakan. Hal itu juga berarti bahwa jangan seluruh fokus pastoral dipusatkan pada paroki. Komunitas basis merupakan tingkat lebih mendasar. Di lain pihak kerasulan kategorial dan organisasi pun sangat penting. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;5. Pendidikan calon imam dan rohaniwan/rohaniwati &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam pertemuan disadari bahwa pendidikan para calon imam maupun pendidikan para rohaniwan dan rohaniwati tidak lagi memadai. Bahwa klerikalisme dan paternalisme masih tetap merupakan cara biasa kepemimpinan para imam, lalu konflik-konflik yang sering terjadi antar pastor, terutama yang muda yang sangat cepat ditempatkan dalam posisi pimpinan, dengan umat, atau rohaniwan/wati dengan karyawan lembaga-lembaga yang mereka pimpin, menunjuk pada kekurangan dalam formasi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kekurangan itu bukan dalam pendidikan kognitif, melainkan dalam formasi kepribadian dan kemampuan untuk berkomunikasi. Gejala yang mencolok adalah bahwa imam muda, atau rohaniwan/rohaniwati, merasa sudah tahu semuanya dan tidak perlu belajar lagi, apalagi dari umat. Konflik lalu tak terelakkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Oleh karena itu dalam pendidikan imam perlu lebih ditekankan pendidikan kepribadian, karakter, kedewasaan mental dan emosional, kemampuan untuk berkomunikasi, serta untuk memimpin secara partisipatif dan kolegial. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Mereka perlu memperoleh sikap mau belajar terus menerus dari orang lain. Mereka perlu diberi kesempatan untuk belajar menerima realitas hidup masyarakat dan mengembangkan sikap yang bersedia memandang ke luar. Dalam kaitan ini kami menekankan pendidikan ongoing formation. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;III. Fokus akhir&lt;br /&gt;Kita bertolak dari visi Gereja sebagai gerakan, sebagai peristiwa penyelamatan Ilahi dalam masyarakat. Sesudah melihat situasi di Indonesia yang ditandai oleh keterpurukan di hampir semua dimensi kehidupannya, kami mengidentifikasi beberapa kelemahan dan kekurangan serius dalam Gereja Katolik Indonesia, yang apabila dibiarkan berlangsung terus, akan membuat Gereja menjadi tidak mampu menjawab tantangan situasi bangsa itu. Maka kami mencoba menunjuk pada pelbagai perspektif dan keharusan bagi ikut sertanya Gereja secara aktif dalam kehidupan masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam bagian terakhir ini tidak dikemukakan sesuatu yang baru. Melainkan kami ingin memusatkan perhatian pada lima pokok yang kami anggap paling kunci dalam pembaruan yang dituntut dari Gereja Katolik Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1. Gereja sahabat orang miskin &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Akan berakibat fatal betul bagi kesaksian Gereja, andaikata Gereja kelihatan telah menjadi Gereja orang kaya. Kalau begitu, kita sudah mengkhianati perutusan Yesus yang justru bertemu dengan kita dalam orang-orang miskin. Maka keprihatikan-keprihatian yang disebut di atas perlu ditindak agar kesaksian Gereja tetap dapat terang. Para pemimpin dan panutan Gereja harus hidup kembali dengan cara sederhana, sehingga mereka bisa dekat dengan orang miskin. Lembaga-lembaga kita perlu mengadakan perubahan arah sungguh-sungguh dan juga secara internal mencerminkan ajaran Gereja sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2. Hubungan dengan agama-agama lain &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Membangun secara konsisten hubungan baik dengan agama-agama lain di Indonesia, terutama dengan umat Islam, bukan hanya sangat penting bagi kita orang Kristen, melainkan salah satu syarat terpenting agar Indonesia dapat membangun masa depan yang damai, ramah, adil, sejahtera dan solider. Maka pengembangan hubungan itu, betapa pun sulitnya, perlu menjadi prioritas baik di tingkat pimpinan Gereja, maupun di tingkat komunitas basis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3. Lembaga-lembaga pendidikan (dan lain-lain) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tenaga dan dana yang dikerahkan oleh Gereja dalam bidang pendidikan adalah luar biasa. Dan memang, melalui bidang ini Gereja betul-betul menyumbang sesuatu kepada "pencerdasan" bangsa. Maka kenyataan bahwa banyak lembaga pendidikan tenggelam dalam usaha untuk sekedar mempertahankan diri perlu menggugah Gereja, artinya semua yang bertanggungjawab, untuk kembali merumuskan apa yang kita kehendaki dengan lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan dibangun bukan demi lembaganya, melainkan karena kita ingin memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak yang dipercayakan orangtuanya kepada kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;4. Formasi kaum awam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Formasi kaum awam merupakan unsur kunci dalam pembaruan diri Gereja. Justru apabila kehidupan barangkali akan menjadi lebih sulit bagi umat kristiani di Indonesia, kaum awam perlu dapat menimba kekuatan dari spiritualitas perutusan ke dalam dunia, dari kesadaran bahwa apa yang mereka prestasikan di situ, betul-betul berpartisipasi dalam penyebaran biji-biji kerajaan Allah ke dalam masyarakat. Kita memerlukan tokoh-tokoh intelektual yang juga tahu tentang ajaran Gereja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;5. Pembaruan pendidikan imam dan rohaniwan/wati &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peran para imam maupun rohaniwan dan rohaniwati dalam Gereja Katolik tetap akan besar. Maka sudah sangat mendesak bahwa kekurangan-kekurangan dalam formasi mereka yang sebenarnya sudah lama disuarakan, dan dengan sangat keras dalam SAGKI 2000, diakui adanya dan diambil tindakan untuk mengubah/memperbaiki formasi mereka. Kunci formasi imam dan rohaniwan/rohaniwati yang memadai adalah pendidikan watak dan kemampuan untuk berkomunikasi, membangun kesediaan untuk mendengarkan, memperhatikan dan menghormati pendapat orang lain, serta agar mereka belajar menerima diri dalam segala macam realitas dan senantiasa mau belajar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jogjakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, 27 Oktober 2002&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4184666923841973429-8124604666947209772?l=inspirasikas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://inspirasikas.blogspot.com/feeds/8124604666947209772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4184666923841973429&amp;postID=8124604666947209772' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/8124604666947209772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4184666923841973429/posts/default/8124604666947209772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://inspirasikas.blogspot.com/2007/04/webkasdokgagasan2002-gereja-katolik.html' title='webkasdokgagasan2002 Gereja Katolik Indonesia Melihat ke Depan'/><author><name>seger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18019764020165012167</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
